AdvertorialKota Mataram

Berbekal DBHCHT Rp1,7 Miliar, Pemkot Mataram Perluas Program Budidaya Ikan Rumahan

Mataram (NTBSatu) – Keterbatasan lahan tidak menghalangi warga perkotaan meraup penghasilan tambahan. Melalui pengelolaan yang tepat, pekarangan sempit mampu menyulap halaman rumah menjadi kolam budidaya ikan yang produktif.

Dinas Perikanan Kota Mataram terus mengembangkan inovasi ini lewat program budidaya ikan rumahan. Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) tahun anggaran 2026 menopang penuh jalannya program tersebut.

Kepala Bidang Budidaya Perikanan, Leo Amri Saleh, mengatakan, pemerintah mengalokasikan anggaran Rp1,7 miliar dan telah merealisasikan sekitar Rp800 juta hingga September lalu.

Program budidaya ikan rumahan atau urban farm perikanan mendorong warga memanfaatkan lahan terbatas sekitar rumah untuk budidaya.

Masyarakat dapat memakai kolam terpal, drum plastik, maupun wadah lain yang sesuai.

Kuncinya terletak pada pengelolaan air, pemberian pakan, kebersihan, serta pemeliharaan rutin.

Dinas Perikanan telah menyalurkan bantuan 25 unit kolam terpal untuk budidaya ikan patin. Leo menyebut beberapa penerima bantuan kini bersiap memanen hasilnya.

“Kalau yang urban farm, seperti kemarin sudah kita laksanakan pelatihan kolam terpal patin. Sebanyak 25 unit sudah kita realisasikan kepada masyarakat. Beberapa juga sudah mau panen,” ujarnya, Sabtu, 7 November 2026.

Instansi ini tidak sekadar menyerahkan sarana produksi. Petugas turut melatih warga menguasai seluruh tahapan budidaya, mulai dari persiapan kolam, pembersihan, pemupukan, hingga perawatan ikan. Langkah tersebut mengubah bantuan fisik menjadi bekal keterampilan berkelanjutan bagi warga.

Namun, Leo mengakui sebagian kegiatan masih menunggu pengesahan APBD Perubahan. Penyesuaian nomenklatur anggaran membuat dinas harus menahan eksekusi program hingga dewan menyetujuinya.

“Ada dua kegiatan lagi, yaitu bantuan budidaya lele dan budidaya gurami. Nanti setelah diketok dan disetujui, baru kita eksekusi,” katanya.

Antusiasme Warga Jangkau Berbagai Kalangan

Respons positif masyarakat menjadi sorotan utama sepanjang pelaksanaan program. Menurut Leo, warga menyambut antusias kesempatan mengembangkan aktivitas produktif yang sebelumnya jarang mereka sentuh.

“Sangat, sangat, sangat antusias dan senang. Mungkin selama ini enggak disentuh. Begitu mereka dapat, seperti ‘kena air di padang pasir’. Mereka senang sekali dan sangat antusias,” tuturnya.

Semangat tersebut tampak dari kesediaan warga mengikuti seluruh tahapan awal sebelum mengelola bantuan. Penerima manfaat wajib membersihkan kolam, merawat sarana, serta menyiapkan media budidaya secara mandiri.

Pada tahap awal, dinas menyasar kelompok ibu rumah tangga. Seiring tingginya permintaan warga, pemerintah memperluas jangkauan peserta. Kini pemuda, bapak-bapak, pensiunan, hingga lansia yang memiliki petak lahan kosong turut ambil bagian.

“Awalnya sasarannya ibu-ibu rumah tangga, tapi berkembang karena diskusi-diskusi terus dan permintaan masyarakat. Pemuda-pemuda, bapak-bapak yang pensiunan, lansia yang tidak ada kegiatan di rumah tetapi masih punya sedikit petakan di belakang, mereka juga mau ikut budidaya,” jelas Leo. (*)

Artikel Terkait