Senator Evi Soroti Rendahnya Pemahaman Gen Z terhadap Nilai Dasar Pancasila
Mataram (NTBSatu) – Komite IV DPD RI, Evi Apita Maya, menyoroti rendahnya pemahaman generasi Z terhadap nilai-nilai dasar pancasila.
Ia mengaku, kerap menemukan siswa yang belum memahami bentuk negara, sistem pemerintahan, hingga makna dasar dari simbol-simbol Pancasila.
“Kami prihatin. Ini adalah fondasi fundamental bangsa. Bagaimana negara bisa tetap kokoh kalau generasi mudanya sudah tidak peduli terhadap sistem pemerintahan, bentuk negara, dan nilai-nilai dasar kebangsaan,” ujar dia, usai kegiatan Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan di Hotel Lombok Garden, Kamis, 11 Juni 2026.
Sebagai informasi, Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) menggandeng komunitas guru dalam kegiatan Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan. Kegiatan ini sebagai upaya memperkuat pemahaman generasi muda terhadap nilai-nilai dasar berbangsa dan bernegara.
Menurutnya, di lingkungan sekolah, guru memiliki peran strategis sebagai penyambung informasi dan nilai kebangsaan kepada peserta didik. Karena itu, dalam agenda ini tidak hanya menggandeng komunitas guru. Namun ada juga berbagai organisasi kemasyarakatan dan kepemudaan untuk memperluas jangkauan sosialisasi.
Ia menilai, pendidikan Pancasila yang saat ini diajarkan di sekolah belum berjalan maksimal seperti pada masa lalu.
Ia mengaku, pernah mengusulkan kepada Menteri Pendidikan saat itu, Nadiem Makarim, agar pendidikan etika, moral, dan Pancasila menjadi mata pelajaran wajib dari tingkat taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi.
“Memang sudah masuk dalam kurikulum, tetapi tidak maksimal seperti dulu. Zaman dulu PKN, bahkan ada Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) yang menjadi bagian penting dalam pendidikan,” katanya.
Ia juga mengungkapkan hasil sejumlah penelitian menunjukkan tingkat pemahaman dan penghayatan nilai-nilai Pancasila di kalangan Gen Z tergolong rendah daripada generasi sebelumnya.
Dalam setiap kegiatan sosialisasi, ia kerap melakukan tanya jawab sederhana kepada para siswa, mulai dari menghafal sila-sila Pancasila hingga menjelaskan filosofi lambang yang terdapat pada setiap sila.
“Banyak yang hafalannya masih kurang, apalagi memahami filosofi di balik simbol-simbol Pancasila. Padahal setiap simbol memiliki makna yang dirancang oleh para pendiri bangsa,” ujarnya.
Menurutnya, penguatan pendidikan Pancasila tidak hanya berkaitan dengan wawasan kebangsaan. Na juga berpengaruh terhadap pembentukan etika dan moral generasi muda di tengah derasnya arus modernisasi dan penggunaan teknologi digital.
“Sesungguhnya nilai-nilai Pancasila tidak pernah bertentangan dengan etika dan moral bangsa Indonesia. Karena itu, penguatan pendidikan karakter dan kebangsaan harus terus dilakukan agar generasi muda tidak kehilangan jati dirinya,” tutupnya. (*)




