Gandeng Dua Yayasan, Dikes KSB Soroti Perkawinan Anak dan Stunting
Sumbawa Barat (NTBSatu) — Penanganan masalah kesehatan masyarakat di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) membutuhkan keterlibatan aktif berbagai elemen masyarakat. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) KSB tidak lagi bisa mengandalkan jalur formal pemerintahan semata untuk menyelesaikan persoalan tersebut.
Oleh karena itu, Dinas Kesehatan KSB memperluas jejaring kemitraan dengan lembaga swadaya masyarakat. Pihaknya menggalang sinergi bersama Yayasan Bale Para Dita dan Project Hope Indonesia.
Sebelumnya, para pihak mematangkan kerja sama strategis ini dalam pertemuan lintas sektor di Aula Dinas Kesehatan KSB. Diskusi tersebut mengupas tuntas berbagai persoalan krusial yang membayangi tumbuh kembang anak serta kesehatan perempuan di KSB.
Kepala Dinas Kesehatan KSB, dr. Carlof, M.MRS., MQM. menegaskan, kolaborasi berbasis komunitas menjadi kunci penting untuk menyentuh akar masalah di tingkat tapak.
“Kolaborasi ini harapannya mendukung salah satu pilar KSB Maju, yakni Maju Kesehatan. Sentuhan komunitas lokal dan partisipasi aktif masyarakat menjadi hal penting saat program ini direalisasikan,” ujar Carlof, Minggu, 18 Oktober 2026.
Isu utama yang mengemuka dalam pertemuan tersebut menyasar percepatan penurunan angka stunting di daerah. Selain itu, maraknya kasus perkawinan anak juga menyita perhatian serius karena mengancam kualitas SDM Sumbawa Barat.
Fokus Langkah Preventif
Tidak kalah penting, para pihak memasukkan isu kesehatan mental perempuan dan anak sebagai agenda prioritas. Banyak warga masih mengabaikan persoalan psikologis, padahal masalah tersebut memengaruhi kesejahteraan keluarga secara langsung.
Melalui sinergi ini, Dikes KSB dan jajaran mitra sepakat mengedepankan pendekatan promotif serta preventif secara masif. Mereka menilai langkah pencegahan jauh lebih efektif dan berbiaya efisien ketimbang menangani kasus yang sudah terjadi.
Selanjutnya, Yayasan Bale Para Dita bersama Project Hope Indonesia merancang program edukasi lingkungan yang aman bagi remaja. Mereka mengarahkan edukasi tersebut secara langsung kepada kelompok warga di desa-desa untuk membangun kesadaran kolektif.
Para mitra akan menerapkan pola pendampingan secara berkelanjutan di tengah masyarakat. Langkah ini bertujuan agar warga memiliki kapasitas mandiri dalam mengenali dan merespons berbagai risiko kesehatan sejak dini.
Di sisi lain, keterlibatan aktif organisasi non-pemerintah memberi warna baru dalam memperkuat program-program kesehatan milik Pemkab KSB. Model kerja sama ini menjadi wujud nyata investasi sosial jangka panjang daerah.
Pemerintah daerah meyakini kolaborasi lintas sektor tersebut mampu melahirkan perubahan perilaku hidup sehat secara signifikan. Kesadaran masyarakat yang meningkat akan menjadi modal utama dalam menekan angka penyakit dan masalah sosial. (*)




