Tumpukan Sampah di RPH Kediri Capai 3 Meter, 15 Armada Dikerahkan
Lombok Barat (NTBSatu) – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Lombok Barat mengerahkan 15 armada untuk mengangkut tumpukan sampah di Desa Kediri, Minggu, 18 Oktober 2026.
Pengangkutan tersebut menyasar timbulan sampah di sekitar Rumah Potong Hewan (RPH) Kediri. Sebelumnya, RPH itu telah lama terbengkalai dan kini justru menjadi tempat pembuangan sampah. Lokasinya berada di depan Grand Islah Residence.
Di tengah kondisi tersebut, DLH berupaya mengurangi penumpukan sampah. Upaya ini berlangsung saat pembatasan ritase menuju Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) masih berlaku.
Kepala DLH Lobar, M. Busyairi mengatakan, kegiatan tersebut berlangsung di luar jadwal pengangkutan rutin. Adapun selama Senin hingga Sabtu, petugas tetap menjalankan pengangkutan sesuai jadwal yang tersedia.
“Pengangkutan hari Minggu dengan mengerahkan semua armada sebagai bentuk mengurangi timbulan sampah. Ini di luar pengangkutan rutin Senin-Sabtu, di tengah pembatasan ritase ke TPA,” kata Busyairi kepada NTBSatu, Minggu, 18 Oktober 2026.
Dalam kegiatan itu, Busyairi menyebut 15 armada mengikuti pengangkutan. Setiap armada mengangkut satu ritase sampah menuju TPA.
Meski demikian, DLH belum merinci total tonase sampah yang berhasil diangkut. Akibatnya, jumlah sampah yang teratasi dalam kegiatan tersebut belum diketahui secara pasti.
Ada Sampah Lama dan Baru
Busyairi mengakui tumpukan sampah di Desa Kediri berasal dari timbulan lama dan baru. Dengan demikian, persoalan di lokasi tersebut tidak hanya berkaitan dengan sampah yang muncul pada hari pengangkutan.
Sementara itu, Penjabat Sekretaris Daerah Lobar, Saeful Ahkam, turut memantau kegiatan tersebut. Saat dikonfirmasi mengenai lamanya penumpukan, Ahkam menyebut kondisi itu berlangsung sekitar satu minggu.
“Semingguan saja,” jawab Ahkam.
Namun, Busyairi menyebut sebagian sampah sudah lama menumpuk. Bahkan, gunungan sampah di lokasi tersebut telah mencapai ketinggian lebih dari tiga meter.
Perbedaan keterangan mengenai durasi penumpukan ini menunjukkan perlunya penjelasan lebih lanjut. Terlebih, tumpukan sampah di lokasi tersebut telah membentuk gunungan yang cukup tinggi.
Pasar Gunungsari Juga Ditargetkan
Selain menangani sampah di Kediri, Busyairi mengatakan DLH berupaya menggelar gotong royong setiap Minggu. Dalam pelaksanaannya, petugas memprioritaskan lokasi dengan timbulan sampah paling banyak.
Selanjutnya, DLH menjadwalkan kegiatan serupa di Pasar Gunungsari pada Minggu berikutnya. “Kita akan bersihkan tumpukan sampah di pasar Gunungsari juga besok,” ujar Busyairi.
Menurut Busyairi, kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah mengurangi penumpukan sampah di sejumlah titik. Ia memastikan DLH akan melanjutkan penanganan setiap Minggu, terutama pada lokasi dengan timbulan berlebih.
“Kita akan tetap tangani setiap Minggu nanti di tumpukan yang berlebih,” jelasnya.
Meski begitu, keberlanjutan penanganan tetap bergantung pada kemampuan pengangkutan dan kapasitas penerimaan sampah di TPA. Pembatasan ritase juga membuat DLH harus mengatur prioritas pengangkutan.
Di sisi lain, kegiatan gotong royong hanya mengurangi timbulan sampah pada lokasi tertentu. Tanpa penanganan berkelanjutan, sampah berpotensi kembali menumpuk setelah armada meninggalkan lokasi.
Karena itu, pemerintah daerah perlu menjelaskan volume sampah yang tersisa dan kapasitas pengangkutan harian. Publik juga membutuhkan kejelasan mengenai penyebab pembatasan ritase serta langkah untuk mencegah penumpukan berulang. (*)




