Milenial dan Gen Z Dominasi Peta Politik, Bawaslu Mataram Sambangi Sekolah Tiap Pekan
Mataram (NTBSatu) – Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kota Mataram menggencarkan langkah proaktif dalam mengawal kualitas demokrasi dengan menyasar kalangan pelajar tingkat SMA dan SMK sederajat.
Upaya ini berlangsung di tengah dinamika data kependudukan pemilih yang mayoritasnya adalah generasi muda.
Ketua Bawaslu Kota Mataram, Muhammad Yusril mengungkapkan, berdasarkan data Rekapitulasi Daftar Pemilih Berkelanjutan (DPB) terbaru, total pemilih di Kota Mataram tercatat sebanyak 335.241 pemilih. Dari jumlah tersebut, pemilih dari kelompok generasi muda memegang porsi terbesar.
Berdasarkan data grafik rekapitulasi, rincian sebaran pemilih di Kota Mataram berdasarkan generasi. Generasi Milenial (kelahiran 1981–1996) sebanyak 112.158 pemilih. Kemudian, Generasi Z (kelahiran 1997–2009) sebanyak 94.141 pemilih. Generasi X (kelahiran 1965–1980) 87.565 pemilih.
Setelahnya, ada Baby Boomer (kelahiran 1945–1964) sebanyak 38.122 pemilih dan Pre-Boomer (kelahiran <1945) 3.255 pemilih.
“Jika kita total, pemilih dari kelompok Milenial dan Gen Z saja sudah mencapai 206.299 orang, atau melampaui separuh dari total keseluruhan pemilih di Kota Mataram,” ujar Yusril, Kamis, 8 Oktober 2026.
Program “Bawaslu Membelajarkan” dan Jemput Bola ke Sekolah
Muhammad Yusril menjelaskan, keterbatasan anggaran tidak menyurutkan langkah jajarannya untuk terus hadir di tengah masyarakat, khususnya generasi muda.
Melalui program bertajuk “Bawaslu Membelajarkan”, pihaknya rutin mendatangi sekolah-sekolah di Kota Mataram hingga dua kali dalam sepekan.
“Kami datang ke sekolah-sekolah, baik SMA maupun SMK, untuk mengenalkan pendidikan demokrasi dan kepemiluan sejak dini kepada para siswa. Bahkan, kami turut mendampingi proses demokrasi di tingkat sekolah, seperti pemilihan ketua OSIS yang menjadi pilot project kami, salah satunya baru-baru ini di SMAN 2 Mataram,” ujar Yusril.
Selain pendidikan politik, Bawaslu juga aktif menyisir potensi pemilih pemula yang akan genap berusia 17 tahun pada saat hari pemilihan, atau mereka yang sudah berusia 17 tahun tetapi belum melakukan perekaman Kartu Tanda Penduduk Elektronik (e-KTP).
“Nah, Siswa-siswa ini kita dorong dan fasilitasi untuk segera mengurus administrasi kependudukan ke Dinas Dukcapil,” tukas Yusril.
Menyongsong Wacana E-Voting dan Tantangan Pengawasan
Dalam kesempatan yang sama, Bawaslu Kota Mataram juga menyoroti wacana penerapan teknologi dalam pemilu masa depan, seperti sistem e-voting yang kerap menjadi diskursus nasional.
Menurut Yusril, secara prinsip efisiensi waktu dan teknis, metode pemungutan suara elektronik memang lebih ringan dari sisi pengawasan sistem.
Kendati demikian, ia mengingatkan, penerapan teknologi pemilu tetap memiliki tantangan tersendiri, terutama terkait kesiapan infrastruktur jaringan hingga aspek geografis di wilayah-wilayah terpencil.
“Prinsipnya, Bawaslu Kota Mataram selalu siap mengawasi apa pun metode yang nanti KPU selenggarakan, baik itu konvensional maupun berbasis digital. Tugas utama kami adalah memastikan hak pilih masyarakat terlindungi dengan baik,” pungkasnya. (*)




