Pemprov NTB Luncurkan Program B2SA dan Gerakan Tanam Cabai Goes to School di Ponpes Quraniyah
Mataram (NTBSatu) – Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTB, meluncurkan program B2SA dan Gerakan Tanam Cabai Goes to School secara perdana di Pondok Pesantren Quraniyah, Kecamatan Batu Layar, Lombok Barat, pada Kamis, 21 Mei 2026.
Program ini menjadi langkah awal Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB, memperluas edukasi pangan sehat dan budidaya pertanian ke lingkungan sekolah dan pondok pesantren.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTB, Lalu Mirza Amir Hamzah mengatakan, kegiatan tersebut menyasar wilayah kantong kemiskinan dan daerah dengan angka stunting tinggi.
“Sekarang lokus kerja Pemprov itu di kantong-kantong kemiskinan yang bisa kita berdayakan. Itu yang akan kita sentuh supaya kesejahteraan masyarakat meningkat dan angka kemiskinan bisa kita perkecil,” jelasnya kepada NTBSatu.
Mirza menjelaskan, kegiatan itu menghadirkan dua program utama, yakni B2SA Goes to School dan Gerakan Tanam Cabai Goes to School.
Program B2SA mengedukasi siswa tentang pola konsumsi pangan Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman. Menurut Mirza, masyarakat selama ini masih bergantung pada beras, padahal banyak sumber pangan lain seperti ubi, jagung, sorgum, dan umbi-umbian yang juga bisa dikonsumsi.
Ia menilai, edukasi itu penting agar generasi muda memahami pola makan sehat sejak dini. Dalam kegiatan tersebut, pihaknya juga menghadirkan ahli gizi untuk memberi pemahaman langsung kepada para santri.
“Harapannya kita mampu menciptakan generasi muda yang sehat secara fisik dan mampu meningkatkan kesejahteraan NTB,” ujarnya.
Selain edukasi pangan, Pemprov NTB juga meluncurkan Gerakan Tanam Cabai di sekolah. Program inisiasi Gubernur NTB, Lalu Muhammad Iqbal itu menyasar SMA, SMK, SLB, hingga pondok pesantren di seluruh NTB secara bertahap.
Tumbuhkan Jiwa Kewirausahaan Pelajar
Mirza mengatakan, program tersebut tidak hanya mengajarkan cara menanam cabai, tetapi juga menumbuhkan jiwa kewirausahaan di kalangan pelajar.
“Ketika tamat SMA mereka tidak bingung lagi mau usaha apa. Minimal mereka punya ilmu budidaya dan bisa menghasilkan uang, tidak hanya berharap jadi pegawai negeri,” katanya.
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTB, menyiapkan bantuan bibit cabai dan media tanam. Para Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dan petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT), akan mendampingi siswa secara rutin hingga masa panen.
“Ini tidak hanya seremonial. Penyuluh akan datang setiap minggu untuk mendampingi sampai berhasil panen,” ujarnya.
Menurut Mirza, cabai dipilih karena memiliki nilai ekonomi tinggi dan permintaan pasar besar. Ia menyebut, kebutuhan cabai nasional masih jauh di atas ketersediaan produksi dalam negeri.
“Cabai ini potensinya luar biasa. Di Lombok Timur bahkan ada yang kirim sampai Aceh pakai pesawat. Per hektare bisa menghasilkan ratusan juta rupiah,” katanya.
Ia menambahkan, metode tanam menggunakan polybag juga memungkinkan siswa untuk mencoba menanam cabai di pekarangan rumah dengan lahan terbatas.
Penuhi Kebutuhan Pesantren
Program tersebut mendapat respons positif dari pimpinan Ponpes Quraniyah, H. Junaidi Tohir. Ia mengaku bersyukur, karena pesantrennya menjadi lokasi pertama peluncuran program.
“Kami sangat berterima kasih karena sekolah kami menjadi yang pertama mendapat sosialisasi pangan seperti ini,” katanya kepada NTBSatu.
Junaidi mengatakan, pihak pesantren berkomitmen merawat bibit cabai dan menjalankan pendampingan dari dinas. Para santri nantinya mendapat tugas khusus untuk memelihara tanaman cabai di lingkungan pondok.
Ia juga berencana menata tanaman cabai menggunakan polybag, agar selain bermanfaat untuk kebutuhan dapur pesantren juga mempercantik lingkungan pondok sebagai tanaman hias.
“Kami berharap pembinaannya terus berlanjut, terutama pendampingan soal pemupukan dan pembuatan kompos,” harapnya. (*)




