AdvertorialLombok Timur

Dari Rane ke Kain, Generasi Muda Pringgasela Selatan Merawat Warisan Tenun 

Mataram (NTBSatu) – Jari-jari Olifia Syakib bergerak pelan menyusun benang pada alat rane. Sesekali siswi Sekolah Tenun Pringgasela Selatan itu menghitung susunan benang yang akan membentuk motif pada kain tenun. Kesalahan satu benang saja dapat mengubah pola yang telah mereka rancang sebelumnya.

Bagi Olifia, proses tersebut menjadi pengalaman baru. Selama ini ia hanya melihat anggota keluarganya menenun di rumah tanpa pernah memahami tahapan yang harus dilalui hingga menghasilkan selembar kain.

“Dulu saya hanya melihat bibik saya menenun di rumah, tetapi tidak pernah mencoba. Setelah mengikuti Sekolah Tenun, saya mulai memahami prosesnya, mengenal makna motif, dan merasa bangga karena bisa ikut melestarikan budaya yang menjadi identitas desa kami,” ujarnya, Rabu, 16 September 2026.

IKLAN

Olifia merupakan salah satu peserta Sekolah Tenun Pringgasela Selatan yang saat ini mengikuti pendampingan pembuatan motif tenun dalam Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) Tahun 2026.

Pada tahap ini, para peserta mempelajari proses rane, yakni menyusun benang yang menjadi dasar pembentukan motif sebelum memasuki tahapan menenun.

Proses tersebut membutuhkan ketelitian dan kesabaran karena menentukan bentuk motif yang akan muncul pada kain. Suasana belajar tampak berbeda dari ruang kelas pada umumnya.

IKLAN

Para peserta duduk berdampingan dengan para penenun yang mendampingi mereka satu per satu. Benang-benang yang tersusun rapi menjadi media belajar untuk memahami bagaimana sebuah motif tenun lahir.

Setelah proses rane selesai, peserta melanjutkan tahapan menenun. Pada fase ini mereka mulai melihat bagaimana susunan benang yang sebelumnya mereka rancang perlahan membentuk motif pada kain.

Bagi sebagian peserta, pengalaman mengikuti seluruh proses dari awal hingga akhir menjadi sesuatu yang baru.

Harapan untuk Melanjutkan Tradisi Menenun

Ketua Kelompok Nina Penenun (KNP) Pringgasela Selatan, Sri Hartini mengatakan, keterlibatan generasi muda dalam proses belajar menenun menjadi harapan bagi keberlanjutan tradisi tenun di daerah tersebut.

“Yang paling membahagiakan adalah melihat semangat peserta yang terus tumbuh. Mereka tidak hanya belajar menenun, tetapi juga mulai memahami sejarah, budaya, dan nilai yang terkandung dalam setiap motif. Ini menjadi harapan baru bagi keberlanjutan tenun Pringgasela Selatan,” tuturnya.

Menurut Sri Hartini, selama ini proses pewarisan pengetahuan tenun lebih banyak berlangsung dalam lingkungan keluarga. Namun perubahan sosial dan semakin berkurangnya minat generasi muda membuat ruang belajar seperti Sekolah Tenun menjadi penting untuk menjaga keberlanjutan tradisi tersebut.

Melalui Sekolah Tenun, peserta tidak hanya belajar keterampilan teknis, tetapi juga mendapatkan edukasi tentang sejarah tenun Pringgasela, motif-motif lokal, serta nilai budaya yang terkandung di dalamnya.

Dengan demikian, tenun tidak hanya semata sebagai produk kerajinan, melainkan sebagai bagian dari identitas masyarakat yang perlu terus dirawat.

Kegiatan pendampingan ini merupakan bagian dari Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) Tahun 2026 yang terlaksana Universitas Hamzanwadi bekerja sama dengan Kelompok Nina Penenun (KNP) Pringgasela Selatan.

Program tersebut mendukung upaya pelestarian budaya melalui pendidikan berbasis komunitas, pengembangan motif tenun berbasis sejarah dan budaya lokal, serta penguatan keterampilan generasi muda.

Di tengah berbagai perubahan yang terjadi, suara “sek-sek” alat tenun masih terdengar dari rumah-rumah penenun di Pringgasela Selatan.

Kini, suara itu tidak hanya datang dari para penenun senior, tetapi juga dari tangan-tangan generasi muda. Mereka mulai belajar merangkai benang, membentuk motif, dan meneruskan cerita budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Program ini mendapat dukungan pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) RI melalui Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) Tahun 2026 sebagai bagian dari upaya penguatan ekosistem seni dan budaya berbasis masyarakat. (*)  

Artikel Terkait