DKP Lombok Timur Siapkan Tambahan Dua Lokasi KNMP

Lombok Timur (NTBSatu) – Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Lombok Timur masih mencari lahan untuk menambah lokasi Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP). Pemerintah daerah menargetkan tambahan dua lokasi dari tiga KNMP yang kini telah memenuhi syarat lahan.
Kepala DKP Lombok Timur Muhammad Tasywiruddin mengatakan, pihaknya telah melakukan pengukuran kondisi awal atau MC0 di tiga lokasi KNMP. Ketiga lokasi itu berada di Pemongkong, Tanjung Luar, dan Sugian.
“Untuk KNMP baru tiga, yakni di Pemongkong, Tanjung Luar, dan Sugian. Kami sedang berusaha mendapatkan tambahan dua lokasi lagi,” kata Tasywiruddin, Senin, 14 September 2026.
Menurutnya, ketiga lokasi tersebut telah memenuhi persyaratan lahan clear and clean. Pemerintah juga telah mengontrak pekerjaan pembangunan, tetapi hingga kini belum memulai pembangunan fisik.
Tasywiruddin menjelaskan, pencarian lahan tambahan menghadapi kendala karena sebagian besar wilayah pesisir memiliki status kepemilikan yang beragam.
Pemerintah daerah atau desa harus memastikan lahan tersebut bebas dari persoalan hukum dan administrasi sebelum pusat memulai pembangunan.
“Lahan di pesisir ini sangat sulit. Ada desa yang mau menghibahkan lahan, tetapi proses hibahnya juga membutuhkan waktu. Pemerintah pusat tidak berani melanjutkan kalau lahannya belum clear and clean,” ujarnya.
KNMP Ekas Sudah Beroperasi
Selain mengejar tambahan lokasi, DKP Lombok Timur juga menunggu proses serah terima KNMP Ekas. Tasywiruddin menyebut, fasilitas di kawasan tersebut sudah beroperasi, meski pemerintah pusat belum menyelesaikan serah terima secara resmi.
“Kalau di Ekas sudah beroperasi, tetapi memang belum serah terima dari pusat. Prosesnya masih berjalan karena nilai anggarannya cukup besar,” jelasnya.
Sejumlah fasilitas KNMP Ekas telah mendukung aktivitas masyarakat. Fasilitas itu meliputi pabrik es, perbengkelan, cold storage, dan kios kuliner.
Namun, pengelola belum memanfaatkan cold storage untuk menyimpan ikan ekspor, seperti tuna dan cakalang. Keterbatasan kapal berukuran besar di kawasan tersebut menjadi salah satu kendalanya.
DKP berharap, pemerintah memberikan bantuan kapal berkapasitas sekitar 5-10 GT untuk mendukung aktivitas perikanan di Ekas.
Sembari menunggu bantuan tersebut, pengelola memanfaatkan cold storage untuk menyimpan ikan rucah sebagai pakan lobster.
Pengelola membeli ikan rucah dari Ampenan, Labuhan Lombok, dan Tanjung Luar. Mereka kemudian menyimpan ikan tersebut secara bertahap sesuai kebutuhan.
“Kami meminta bantuan freezer agar pengelola bisa menyimpan pakan lobster saat harga ikan rucah turun,” kata Tasywiruddin.
Tasywiruddin menjelaskan, fasilitas penyimpanan memungkinkan pengelola membeli ikan rucah saat harga murah untuk persediaan pakan lobster.
Tanpa fasilitas tersebut, pengelola harus membeli ikan ketika membutuhkan dengan harga yang berpotensi lebih mahal. (*)




