Ekonomi BisnisLombok Tengah

Harga Plastik Sempat Tembus Rp24 Ribu per Kap, Pedagang Lombok Tengah: Turun tapi Belum Normal

Lombok Tengah (NTBSatu) – Harga plastik kemasan di Lombok Tengah sempat melonjak hingga Rp24 ribu per kap. Kenaikan itu ikut menekan pelaku usaha makanan karena biaya kemasan menjadi lebih mahal.

Penjual plastik dan plastik cup, Rahmawati, mengatakan kenaikan mulai terasa saat muncul isu konflik di Timur Tengah. Saat itu, harga plastik yang biasanya berada di kisaran Rp17 ribu per kap naik bertahap hingga Rp22 ribu-Rp24 ribu.

“Dari harga Rp17 ribu, terus sekarang pas Mei sudah sampai Rp22 ribu, Rp23 ribu, sampai Rp24 ribu pun ada,” kata Rahmawati kepada NTBSatu, Rabu 9 September 2026.

IKLAN

Menurutnya, harga plastik kini mulai turun seiring meredanya isu konflik di Timur Tengah. Namun, harga tersebut belum kembali ke level sebelumnya.

Saat ini, harga plastik berada di kisaran Rp19 ribu per kap. Pedagang biasanya menjual sekitar Rp20 ribu untuk pembelian eceran.

Rahmawati menyebut kenaikan juga terasa pada sejumlah jenis kemasan lain, termasuk plastik kresek dan cup. Selisih harganya bisa mencapai Rp7 ribu hingga Rp10 ribu dibandingkan harga sebelumnya.

IKLAN

“Plastik kresek itu luar biasa naiknya. Saya rasa cup juga sama, kenaikannya hampir sama,” ujarnya.

Berdampak pada Harga Jual Makanan

Kenaikan harga plastik ikut berdampak pada harga jual makanan. Salah satunya bubur kacang hijau yang sebelumnya seharga Rp6 ribu per porsi. Kini harganya naik menjadi Rp7 ribu.

Rahmawati mengatakan pelaku usaha terpaksa menaikkan harga karena keuntungan semakin tipis jika tetap mempertahankan harga lama.

Tak hanya plastik, harga tepung ketan juga mengalami kenaikan. Harga yang sebelumnya sekitar Rp22 ribu per kilogram kini mencapai Rp44 ribu per kilogram.

Rahmawati berharap kenaikan harga kebutuhan tidak terus membebani masyarakat. Menurutnya, peningkatan harga semestinya berjalan seiring dengan bertambahnya lapangan pekerjaan dan membaiknya kualitas pendidikan.

Ia juga menyoroti program Makan Bergizi Gratis (MBG). Rahmawati berharap pemerintah memperbaiki sistem MBG agar makanan yang tersisa tidak terbuang percuma.

“Kalau seandainya tidak diberhentikan, tapi perbaikilah sistemnya. Mungkin bagaimana caranya biar lebih baik ke depannya,” pungkasnya. (*)

Artikel Terkait