Cerita Warga Sade, Masih Sempat Selamatkan Ayam di Tengah Kobaran Api
Lombok Tengah (NTBSatu) – Di tengah kepanikan warga saat kebakaran melanda Dusun Sade, Desa Rembitan, Lombok Tengah, Sabtu 22 Agustus 2026 malam, Wahyu justru sempat memikirkan ayam-ayam miliknya.
Warga sekaligus pengelola Desa Wisata Sade itu berada di tengah permukiman ketika api mulai membesar. Saat itu, ia bahkan sempat mengambil air untuk membantu memadamkan api.
Namun, kobaran api yang semakin besar membuat upaya tersebut nyaris sia-sia. “Sudah kayak pasrah aja. Karena sudah besar,” kata Wahyu kepada NTBSatu, belum lama ini.
Menurut Wahyu, api bergerak sangat cepat dari satu rumah ke rumah lainnya. Kondisi itu diperparah angin dan material alang-alang yang mudah terbakar.
Di tengah situasi tersebut, Wahyu masih sempat kembali untuk menyelamatkan ayam miliknya. “Masih! Buka ayam,” ujarnya.
Ia membuka kandang ayam yang berada di belakang rumah kakaknya. Enam ekor ayam berada di sana.
Setelah kandang dibuka, ayam-ayam tersebut langsung berlarian menyelamatkan diri. Wahyu kemudian berusaha mengevakuasi sejumlah barang berharga seperti televisi, ijazah, dan surat-surat.
Untuk barang-barang lain, ia mengaku sudah tidak memiliki banyak pilihan. “Kayak memang begini sudah,” katanya.
Wahyu juga menceritakan satu ayam miliknya berhasil lolos dari kobaran api. Ayam tersebut sebelumnya berada dalam sebuah boks agar bisa tumbuh besar.
Saat kebakaran, boks itu roboh. Ayam tersebut kemudian berlari dan berhasil keluar dari area kebakaran.
“Lari, tahu dia arahnya. Ada ternyata otaknya,” ujar Wahyu sambil tertawa kecil mengenang kejadian tersebut.
Namun, setelah kebakaran, ayam itu disebut mengalami trauma. Wahyu mengatakan ayam tersebut kini tidak lagi bisa digunakan untuk dikembangbiakkan.
“Ndak bisa sekarang buat anak,” katanya.
Tidak Semua Ayam Selamat
Tak semua ayam berhasil selamat. Beberapa ayam yang masih terikat tidak sempat lepas. Wahyu mengatakan suara kokok ayam bahkan masih terdengar ketika api berkobar.
Di balik cerita ayam tersebut, Wahyu mengaku peristiwa malam itu tetap meninggalkan kesedihan mendalam. Ia bersama ibu, adik, dan istrinya kemudian mengungsi ke area persawahan yang lebih jauh dari permukiman.
Ketika berada di sawah, barulah kesedihan itu terasa. “Saya di sana nggak lihat kampung, ada bangunan. Terus lihat kampung lagi, nggak tahu datang dari mana kesedihan,” tuturnya.
Wahyu juga ikut membantu mengevakuasi warga, termasuk lansia dan anak-anak, menuju tempat yang lebih aman.
Ia mengatakan saat kejadian, rasa takut seolah hilang karena semua orang fokus menyelamatkan diri dan orang-orang di sekitarnya.
“Tapi kalau balik ada rasanya. Kalau sudah kejadian rasanya nggak ada,” katanya. (*)




