NTBPemerintahan

Disperindag NTB Pastikan Stok Pangan Aman Hingga Akhir Tahun

Mataram (NTBSatu) – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) NTB, memastikan ketersediaan bahan pangan pokok tetap aman dan terkendali hingga akhir tahun 2026.

Meski NTB tengah menghadapi musim kemarau, pemerintah mengimbau masyarakat agar tidak melakukan aksi borong atau panic buying.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB memperkuat jaminan pasokan pangan yang stabil tersebut. BPS mencatat, indeks subsektor hortikultura pada Agustus 2026 justru turun 3,88 persen menjadi 189,58. Penurunan harga ini terjadi akibat melimpahnya hasil panen cabai, bawang merah, dan tomat di tingkat petani.

IKLAN

Kepala Disperindag NTB, H. Lalu Wiranata mengatakan, stok pangan daerah masih mencukupi hingga akhir tahun. “Stok bahan pangan insya Allah aman dan mencukupi sampai akhir tahun. Apalagi perkiraannya, sekitar satu bulan ke depan kita sudah mulai memasuki musim hujan,” ujar Wiranata kepada NTBSatu, Senin, 31 Agustus 2026.

Pasokan dan Sistem Irigasi Masih Normal

Wiranata menjelaskan, hingga kini pihaknya belum menerima laporan terkait penurunan hasil produksi maupun kelangkaan pangan di NTB. Ia menambahkan, pemantauan di lapangan menunjukkan sistem irigasi di daerah pertanian masih berfungsi optimal. Sehingga produksi padi, palawija, dan hasil perkebunan tetap terjaga.

Per Agustus 2026, BPS NTB mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) Subsektor Tanaman Pangan naik 1,82 persen menjadi 125,93. Sementara itu, Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) menguat 1,47 persen menjadi 133,70. Angka ini menandakan efisiensi dan keuntungan usaha tani di NTB tetap tinggi meski di tengah musim kemarau.

IKLAN

“Dampak kemarau sejauh ini lebih dominan memengaruhi ketersediaan air bersih di beberapa titik, bukan pada produksi pertanian,” tambah Wiranata.

Guna mengantisipasi potensi lonjakan harga sekaligus menjaga daya beli masyarakat, pihak dinas telah menggelar kegiatan Pasar Murah secara serentak di berbagai titik.

Wiranata menyebutkan, lonjakan harga di pasaran umumnya oleh kenaikan permintaan mendadak menjelang hari besar keagamaan atau aksi borong berlebihan dari konsumen.

“Fokus kami saat ini memantau jalur distribusi dan memastikan seluruh produk dari produsen sampai ke tangan konsumen dengan harga yang standar dan wajar. Karena itu, masyarakat kami imbau tetap tenang,” tuturnya. (Japriani)

Artikel Terkait