BPS NTB Verifikasi Sanggahan Desil Masyarakat Secara Bertahap
Mataram (NTBSatu) – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) terus memperbarui data desil dalam Data Terpadu Sosio-Ekonomi Nasional (DTSEN) secara berkala setiap tiga bulan.
Kepala BPS NTB, Dr. Wahyudin mengatakan, pihaknya telah merilis data terbaru pada awal Juli lalu. Sedangkan, publikasi berikutnya akan terbit pada Oktober mendatang.
“Masyarakat dapat mengecek posisi desil secara mandiri melalui laman resmi dtsen-form.bps.go.id,” ujar Wahyudin kepada NTBSatu, Senin 31 Agustus 2026.
Ia menjelaskan, BPS NTB mengolah dan memadankan tiga sumber data dasar utama untuk menyusun data desil DTSEN. Ketiga basis data tersebut meliputi Registrasi Sosial Ekonomi (Regsosek) dari Bappenas, Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) milik Kemensos, serta Data Pensasaran Percepatan Penghapusan Kemiskinan Ekstrem (P3KE) dari TNP2K. BPS menjalankan proses ini demi menjaga keakuratan data penerima manfaat.
Setelah melalu proses sinkronisasi, BPS mengelompokkan data yang cocok (match) dan memiliki variabel lengkap ke dalam tingkatan Desil 1 hingga Desil 10. Penentuan tingkatan desil tersebut mengacu pada 41 indikator penilaian kondisi sosial ekonomi masyarakat.
Pemutakhiran Data DTKS Masih Rendah
Wahyudin mengungkapkan bahwa basis data P3KE, Regsosek, dan DTKS yang digunakan saat ini masih mengacu pada pendataan tahun 2022/2023.
“Hingga Juli 2026, tingkat pemutakhiran data DTKS baru menyentuh angka 33,13 persen. Capaian ini menunjukkan bahwa petugas belum memperbarui mayoritas data masyarakat di lapangan,” tambahnya.
Di sisi lain, BPS NTB mencatat tingkat partisipasi masyarakat dalam mengajukan sanggahan data desil secara mandiri masih sangat rendah. Untuk menindaklanjuti sanggahan masyarakat yang masuk melalui tautan resmi, BPS NTB menggelar proses verifikasi dan validasi (verivali) secara bertahap.
“Kami megelar verivali sanggahan ini dengan menyesuaikan ritme laporan yang masuk ke sistem BPS. Kami juga berkoordinasi erat dengan Dinas Sosial setempat agar pemetaan desil semakin tepat sasaran,” pungkasnya. (Japriani)




