Teknologi AI, Otak Baru di Balik Akurasi Pertambangan AMMAN
Kecerdasan buatan dalam dunia pertambangan adalah pilihan, sebagai wujud transformasi teknologi dalam proses produksi. PT AMMAN membuktikan, artificial intelligence atau AI menciptakan operasional lebih efisien, namun tanpa harus menghilangkan peran manusia.
Oleh: Atim Laili
Tahun 2025, PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT), anak perusahaan PT Amman Mineral Internsional Tbk (AMMAN) memulai produksi bijih awal dari Batu Hijau Fase 8, memperpanjang umur operasional tambang hingga sekitar tahun 2030.
Di fase ini, jumlah material yang ditambang PT AMNT sedikit berkurang dibandingkan tahun sebelumnya. Per tahun 2025, total material tambang (ore + waste) mencapai 293 juta ton. Sementara tahun 2024 sebesar 322 juta ton. Terjadi perubahan sekitar 9 persen.
Dalam laporan keberlanjutan tahun 2025 PT AMMAN, penurunan ini karena kegiatan penambangan sepanjang tahun tersebut berfokus pada pengupasan lapisan batuan penutup dan penambangan bagian terluar bijih Fase 8. Hal ini ditandai dengan bijih berkadar rendah hingga menengah. Volume bijih segar yang ditambang meningkat 60 persen year on year (YoY). Namun, kadar bijih lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.
Jauh sebelum hasil galian itu masuk pada proses pemurnian, sudah berjalan sistem operasi digital yang membantu perusahaan dalam membaca data, mengoptimalkan proses, hingga menghadirkan pertambangan yang aman.
Setidaknya terdapat tiga teknologi yang bekerja di titik berbeda dalam rantai operasional PT AMMAN. Di antranya: Penerapan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), Citra Satelit, dan Laser 3D. Masing-masing ketiganya memiliki cara kerja berbeda-beda.
Tingkatkan Perolehan Mineral Lewat AI
PT AMMAN terus memperkuat transformasi digital di sektor pertambangan melalui penerapan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Salah satunya adalah penggunaan Artificial Intelligence Dashboard Automation (AIDA).
Vice President Corporate Communication AMMAN, Kartika Octaviana menyampaikan, teknologi AIDA bekerja dengan mengolah data operasional historis dan real-time yang berasal dari proses pengolahan mineral. Sistem kemudian menganalisis berbagai variabel operasional dan memberikan rekomendasi mengenai parameter proses yang paling optimal untuk membantu meningkatkan perolehan mineral.
Salah satu fitur utamanya adalah Set Point Optimizer. Fitur ini, kata dia, dapat merekomendasikan penyesuaian terhadap parameter penting seperti dosis reagen, laju aliran air, dan variabel proses lainnya. Rekomendasi tersebut kemudian ditinjau oleh tim operasi dan metalurgi sebelum diterapkan di lapangan.
Dari sisi hasil, kombinasi perbaikan proses dan optimalisasi berbasis AI melalui AIDA telah membantu AMMAN meningkatkan perolehan mineral sekitar 2,5 persen. “Dalam operasi berskala besar seperti Batu Hijau, peningkatan beberapa persen saja merupakan pencapaian yang sangat signifikan,” kata Kartika kepada NTBSatu, dikutip Senin 24 Agustus 2026.
Di samping itu, alasan AMMAN memilih untuk mengembangkan dan menerapkan AIDA sebagai bagian dari transformasi digital perusahaan guna membangun operasi pertambangan yang lebih cerdas, efisien, dan berkelanjutan. Dalam industri pertambangan, peningkatan kecil sekalipun pada tingkat perolehan mineral dapat memberikan dampak yang signifikan, baik dari sisi nilai ekonomi maupun konservasi sumber daya mineral.
“Melalui AIDA, AMMAN dapat memanfaatkan data operasional yang telah dikumpulkan selama lebih dari 25 tahun untuk mendukung pengambilan keputusan yang lebih cepat, akurat, dan berbasis data,” katanya.
Kartika menjelaskan, kekuatan utama AIDA terletak pada kemampuannya membantu tim operasi dan metalurgi menganalisis data operasional dalam jumlah besar dengan lebih cepat, konsisten, dan berbasis data. Dengan dukungan data historis dan data real-time, AIDA dapat memberikan rekomendasi parameter proses yang lebih optimal untuk mendukung peningkatan perolehan mineral (mineral recovery).
Adapun data yang dianalisis mencakup berbagai parameter proses, seperti karakteristik bijih, kondisi operasi pabrik, dosis reagen, laju aliran air, serta variabel lain yang mempengaruhi tingkat perolehan mineral.
“Data-data tersebut kemudian diproses untuk menghasilkan rekomendasi pengaturan proses yang dapat ditinjau dan digunakan oleh tim operasi dan metalurgi,” ujarnya.
Selain itu, AIDA juga memiliki kemampuan untuk mendeteksi penyimpangan dari kondisi optimal sebelum penyimpangan tersebut dapat teridentifikasi oleh operator. Namun, sebagaimana teknologi berbasis AI pada umumnya, efektivitas AIDA sangat bergantung pada kualitas data, keandalan sensor, serta validasi dari para ahli di lapangan.
“Oleh karena itu, AIDA tidak digunakan sebagai sistem yang berdiri sendiri, melainkan sebagai alat pendukung pengambilan keputusan yang tetap membutuhkan pertimbangan dan pengalaman manusia,” ujarnya.
Meski menggunakan teknologi AI, Kartika menegaskan, AIDA tidak dirancang untuk menggantikan peran manusia. Sistem tersebut berfungsi sebagai alat pendukung bagi insinyur, metalurgis, dan operator dalam mengambil keputusan. Setiap rekomendasi tetap ditinjau berdasarkan kondisi aktual di lapangan dan pengalaman para ahli.
“Pendekatan tersebut juga menjadi bagian penting dalam menjaga efektivitas dan akurasi AIDA. Kinerja sistem tidak hanya ditentukan oleh model AI, tetapi juga oleh kualitas data, keandalan sensor, serta proses validasi yang dilakukan oleh tim operasi dan metalurgi,” tegasnya.
Menjaga Aliran Material dengan Laser 3D
Sebelum memasuki pabrik pengolahan (processing plant), setiap bijih hasil penambangan di Batu Hijau harus melewati proses seleksi dan pemilhanan. Tujuannya, memastikan tidak ada objek berukuran ekstrem (oversize objects) atau material asing non-batuan yang ikut terbawa dari area tambang menuju pabrik pengolahan. Hal ini agar setiap material yang masuk ke pabrik dapat diproses dengan aman, lancar, dan efisien.
Sebelum teknologi Laser 3D ini dikembangkan, tim Metallurgi AMMAN memantau aliran material yang bergerak melalui ban berjalan (conveyor) menuju SAG Mill, hanya mengandalkan sistem kamera dua dimensi (2D). Sebagai informasi, SAG Mill merupakan mesin penggiling raksasa yang berperan penting dalam mengubah batuan bijih menjadi partikel yang lebih halus sebelum memasuki proses pemisahan mineral.
Victor, salah satu tim Metallurgi AMMAN mengatakan, sistem kamera dua dimensi (2D), memang cukup efektif. Namun, sistem ini memiliki keterbatasan visual dalam membedakan objek ketika kondisi pencahayaan berubah atau ketika material memiliki warna dan tekstur yang serupa.
Berangkat dari tantangan tersebut, tim AMMAN mengembangkan pendekatan yang lebih presisi melalui penerapan teknologi 3D Particle Size Measurement (3DPM) berbasis laser triangulation. Teknologi ini dipasang di jalur conveyor sebelum material memasuki SAG Mill. Dengan memanfaatkan pemindaian laser tiga dimensi secara real-time, sistem mampu mengukur bentuk, ukuran, dan volume objek secara lebih akurat dibandingkan metode konvensional.
“Hasilnya, objek yang berpotensi mengganggu proses dapat teridentifikasi lebih dini sehingga operator memiliki waktu yang cukup untuk melakukan tindakan pencegahan,” kata Victor dalam keterangan resminya.
Penerapan teknologi 3DPM memberikan visibilitas yang lebih baik bagi operator dalam memantau kondisi material yang masuk ke pabrik. Informasi yang lebih akurat memungkinkan pengambilan keputusan yang lebih cepat dan tepat, sekaligus membantu mengurangi potensi gangguan operasional.
Selain meningkatkan keandalan proses, teknologi ini juga mendukung kelancaran aliran material di pabrik pengolahan sehingga ritme produksi dapat terjaga lebih konsisten.
Pantau Keberhasilan Reklamasi melalui Citra Satelit
Bagi AMMAN, reklamasi bukan hanya kegiatan menanam kembali, tetapi proses pemulihan lahan secara menyeluruh. Tujuannya, agar fungsi lingkungan dan ekosistem dapat kembali terbentuk secara berkelanjutan. Hal ini untuk memastikan bahwa lingkungan tetap terjaga untuk generasi mendatang.
Karena itu, reklamasi dan penghijauan lahan menjadi bagian penting dari strategi pengelolaan lingkungan perusahaan yang dijalankan secara bertahap, terencana, dan berbasis ilmu pengetahuan.
Dalam proses reklamsi, PT AMMAN memanfaatkan teknologi dalam memantau keberhasilan penanaman kembali pascatambang agar lebih terukur dan presisi. Salah satunya adalah pemanfaatan citra satelit, UAV atau drone, serta analisis Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) untuk memantau tingkat kehijauan dan kesehatan vegetasi di area reklamasi.
“Kami menggunakan pendekatan NDVI untuk menentukan jenis tanaman yang cocok ditanam. Melalui analisis NDVI, diperoleh nilai NDVI +1 atau mendekati hutan alami. Ini berarti, kami berhasil mengubah lahan bekas tambang menjadi sebuah oasis hijau,” kata Kartika.
Sebagai informasi, NDVI merupakan metode penginderaan jauh memanfaatkan rasio panjang gelombang cahaya kanal Merah dan NIR (Near-Infrared Radiation) dari citra satelit ataupun foto udara. Kegunaannya untuk mengukur tingkat kerapatan ataupun kesehatan vegetasi suatu wilayah.
Adapun nilai NDVI terukur berkisar antara -1 hingga 1, di mana nilai positif NDVI menunjukkan areal yang bervegetasi, nilai negatif NDVI menunjukkan areal tidak bervegetasi, dan nilai NDVI yang mendekati 0 menunjukan areal dengan kerapatan vegetasi jarang.
Selain itu, AMMAN juga memanfaatkan geospatial intelligence berbasis citra satelit near-real time, cloud computing, dan AI untuk mendeteksi perubahan tutupan lahan. “Teknologi ini membantu perusahaan melakukan pemantauan secara lebih akurat, cepat, dan berbasis data,” ujar Kartika.
Untuk diketahui, progres penghijauan di area reklamasi Batu Hijau terus berjalan secara bertahap dan terencana. Hingga akhir 2025, AMMAN telah mereklamasi 859,61 hektare lahan, termasuk capaian reklamasi tahunan terbesar dalam sejarah Batu Hijau pada 2025 seluas 92,67 hektare. Angka ini terus bertambah seiring pelaksanaan reklamasi progresif yang dilakukan setiap tahun mengikuti perkembangan operasi tambang.
Teknologi Harus Sejalan dengan Pengembangan SDM Lokal
Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi NTB mengapresiasi pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan atau AI yang diterapkan PT AMMAN dalam mendukung operasional pertambangan. Mengingat, perkembangan teknologi mampu meningkatkan efisiensi kerja sekaligus mendukung aspek keselamatan pada aktivitas pertambangan.
Sekretaris Dinas ESDM Provinsi NTB, Niken Arumdati, ST, M.Sc, mengatakan industri pertambangan terus bergerak mengikuti perkembangan teknologi. Karena itu, penggunaan AI menjadi salah satu langkah yang relevan untuk menjawab kebutuhan operasional yang semakin kompleks.
“Kami melihat perkembangan teknologi di AMMAN cukup positif. Industri pertambangan memang terus berkembang dan penggunaan teknologi, termasuk AI, sudah menjadi bagian dari upaya meningkatkan efisiensi dan keselamatan operasi,” ujarnya kepada NTBSatu, 24 Agustus 2026.
Menurut Niken, AI membantu perusahaan mengolah data dalam jumlah besar secara cepat dan akurat. Kemampuan tersebut memberi manfaat dalam berbagai kegiatan operasional, termasuk pemantauan kondisi alat, analisis data lapangan, hingga perencanaan pekerjaan yang membutuhkan ketelitian tinggi.
Teknologi juga berperan dalam mendukung pemeliharaan peralatan tambang. Melalui analisis data secara real time, perusahaan dapat mengenali potensi gangguan lebih awal sehingga langkah penanganan dapat berlangsung lebih cepat. Kondisi itu berpotensi menekan risiko kerusakan alat dan menjaga kelancaran operasional perusahaan.
Namun, Niken mengingatkan bahwa kemajuan teknologi tidak dapat menggantikan seluruh peran manusia. Setiap sistem tetap memiliki potensi kendala, baik dari sisi data maupun operasional, sehingga pengawasan manusia tetap menjadi bagian penting dalam setiap proses kerja.
Niken menegaskan, aspek keselamatan kerja dan pengelolaan lingkungan harus tetap menjadi prioritas utama dalam operasional pertambangan. Karena itu, perusahaan perlu memastikan penggunaan teknologi berjalan sesuai prinsip pertambangan yang baik dan memenuhi ketentuan yang berlaku.
“Untuk keputusan yang berkaitan dengan keselamatan dan lingkungan, peran manusia tetap penting,” katanya.
Terkait pengawasan, ESDM NTB lebih menitikberatkan perhatian pada kepatuhan perusahaan terhadap kewajiban yang berkaitan dengan keselamatan kerja dan lingkungan. Sementara aspek teknis pertambangan, berada dalam pengawasan pihak yang memiliki kewenangan sesuai regulasi. (*)




