KesehatanLombok Tengah

Dikes Lombok Tengah Temukan Ratusan Kasus TBC hingga Agustus 2026

Lombok Tengah (NTBSatu) – Dinas Kesehatan (Dikes) Lombok Tengah mencatat penemuan kasus tuberkulosis (TBC) hingga Agustus 2026 baru mencapai sekitar 25 persen dari target tahunan.

Kabid P3KL Dinas Kesehatan Lombok Tengah, Putrawangsa, mengatakan target penemuan TBC tahun ini berada di angka sekitar 3.700 kasus. Sementara hingga saat ini, kasus yang berhasil ditemukan baru sekitar 722 kasus.

“Kalau sampai hari ini sekitar 25 persen. Targetnya 3.700-an,” kata Putrawangsa kepada NTBSatu, Kamis 20 Agustus 2026.

IKLAN

Capaian tersebut membuat Lombok Tengah berada pada posisi terendah dalam persentase penemuan kasus TBC daripada kabupaten/kota lain di NTB.

Menurut Putrawangsa, rendahnya capaian bukan berarti kasus TBC di Lombok Tengah sedikit. Penemuan kasus yang belum maksimal menjadi salah satu penyebabnya.

“Bukan angkanya sedikit terus kita aman. Kita belum maksimal saja dalam penemuannya,” ujarnya.

IKLAN

Terkendala Alat Pemeriksaan

Putrawangsa menyebut, keterbatasan alat Tes Cepat Molekuler (TCM) turut memengaruhi kecepatan penemuan kasus.

Saat ini, Lombok Tengah memiliki empat alat TCM yang tersebar di Praya, Sengkol, Mantang, dan rumah sakit. Pemeriksaan menggunakan TCM dapat memberikan hasil dalam waktu sekitar lima menit.

“Kalau dulu butuh empat hari, sekarang pakai TCM kan butuh hanya lima menit bisa keluar hasilnya,” jelasnya.

Ia berharap, Kementerian Kesehatan kembali memberikan alat TCM melalui skema hibah atau pinjam pakai. Tambahan alat tersebut diharapkan dapat masuk pada akhir Agustus dan menjangkau 12 kecamatan.

Putrawangsa mengatakan harga satu unit TCM mencapai sekitar Rp750 juta sehingga pengadaan mandiri menjadi cukup berat bagi daerah.

Kebut Penelusuran di 139 Desa

Untuk mengejar ketertinggalan capaian, pihaknya kini memperluas tracing TBC ke seluruh 139 desa di Lombok Tengah.

Petugas memetakan dusun dengan angka kasus tinggi untuk kemudian melakukan pemeriksaan terhadap masyarakat yang menjadi sasaran tracing.

Warga yang tidak datang ke lokasi pemeriksaan akan mendapat kunjungan dari petugas Puskesmas.

Putrawangsa mengatakan, upaya tersebut agar penemuan kasus tidak hanya bergantung pada pasien yang datang berobat.

“Kalau kita sudah maksimal kasus tracing-nya, dari target yang di-tracing itu misalnya akan ketemu angka target temuan tracing,” katanya.

Berdasarkan perhitungan Kementerian Kesehatan, target penemuan kasus Lombok Tengah seharusnya dapat mencapai sekitar 90 persen hingga akhir tahun.

“Targetnya sampai Desember nanti harusnya sudah 90 persen,” tegasnya.

Ia menambahkan, penanganan TBC juga membutuhkan kepatuhan pasien menjalani pengobatan hingga tuntas. Saat ini, pengobatan TBC masih berlangsung selama enam bulan.

Putrawangsa berharap peningkatan tracing dan dukungan alat pemeriksaan dapat mempercepat penemuan kasus sekaligus memutus rantai penularan TBC di Lombok Tengah. (*)

Artikel Terkait