Lombok Tengah

Sosok Dicky Atmajaya, Kepala BPN Lombok Tengah yang Membawa Misi Layanan Membahagiakan

Lombok Tengah (NTBSatu) – Dicky Atmajaya, pria kelahiran 6 November 1982 ini punya cara berbeda memaknai jabatan sebagai Kepala BPN Lombok Tengah. Baginya, pemimpin bukan sosok yang harus selalu dilayani, melainkan orang yang hadir untuk melayani.

Prinsip itu tumbuh dari perjalanan karier Dicky yang penuh cerita. Ia awalnya tidak mengenal dunia pertanahan. Lulusan Teknik Informatika STMIK Bumigora (sekrang Universitas Bumigora) itu pada 2005 mendaftar ke BPN, Departemen PU, dan Koba Tin.

Ayahnya yang bekerja di lingkungan PU sempat berharap Dicky memilih PU. Namun, Dicky justru memilih BPN karena ingin membangun karier tanpa bayang-bayang keluarga.

IKLAN

“Saya punya prinsip dulu, kalau saya masuk BPN, enggak ada keluarga saya di BPN, jadi enggak ada namanya nepotisme,” kata Dicky kepada NTBSatu, Selasa 18 Agustus 2026.

Berangkat Tes dengan Uang Gadai Kalung Ibu

Perjuangan mengikuti tes BPN di Surabaya juga tidak mudah. Saat itu, ibu Dicky baru menjalani operasi besar sehingga ia harus merawat sang ibu.

Dicky bahkan sempat tidak mengetahui panggilan tes karena sibuk menjaga ibunya. Setelah mendapat informasi, ia mencari tiket menuju Surabaya yang saat itu sudah hampir habis.

IKLAN

Ia hanya membawa Rp500 ribu, sebagian berasal dari hasil menggadaikan kalung ibunya.

Sesampainya di Surabaya, Dicky bertemu perantau asal Lombok yang memberinya tempat menginap. Malam sebelum tes, ia tidur beralaskan selimut di lantai.

“Saya bukan siapa-siapa tanpa doa. Saya beruntung, bukan pintar,” ujarnya.

Dicky akhirnya lulus dan memulai karier pada 2006. Ia menjadi ajudan Kakanwil selama lima tahun sebelum mendapat sejumlah promosi hingga akhirnya memimpin BPN Lombok Tengah.

Saat masuk BPN Lombok Tengah, Dicky menggunakan bulan pertama untuk memetakan persoalan. Ia menemukan persoalan tunggakan pekerjaan dan layanan yang menurutnya perlu dibenahi.

Namun, ia melihat akar persoalannya bukan hanya sistem, melainkan kepedulian.

“Satu berkas bagi kalian itu sedikit. Tapi pernah enggak kalian berpikir dari satu berkas itu mungkin di belakangnya ada orang sakit, anaknya mau sekolah, atau orang yang butuh modal usaha?” katanya.

Karena itu, Dicky ingin membangun layanan yang membahagiakan.

“Pemohon yang keluar dari kantor saya harus bahagia. Kami yang melayani juga harus dengan bahagia,” ujarnya.

Baginya, kepedulian melahirkan empati, kemudian rasa memiliki dan tanggung jawab.

Dicky pun ingin meninggalkan legacy berupa budaya kerja yang humanis. “Di mana saya ditempatkan, di situ saya bermanfaat. Saya punya legacy di situ,” katanya.

Ia percaya teknologi dapat menggantikan banyak pekerjaan, tetapi tidak dengan rasa peduli dan empati.

“Kalau semua sudah terganti sistem, ada satu yang enggak bisa diganti, apa? Rasa peduli,” tegasnya. (*)

Artikel Terkait