Dari Panggung Taman Budaya NTB, Mimpi Besar Kebudayaan itu Dimulai
Mataram (NTBSatu) – Pagi itu, suasana di Taman Budaya NTB belum sepenuhnya ramai. Namun dari dalam gedung pertunjukan, denting gamelan, hentakan kaki penari, hingga diskusi hangat para pelaku seni, mulai terdengar bersahutan.
Ada energi yang berbeda. Bukan sekadar agenda seremonial, tetapi ruang tempat harapan baru kebudayaan Nusa Tenggara Barat sedang disiapkan.
Ada 60 pelaku seni dari berbagai kabupaten dan kota di NTB mengikuti Workshop Seni Pertunjukan yang digelar Taman Budaya NTB. Dengan latar belakang yang berbeda, mulai dari komposer muda, koreografer, pemusik tradisional, pengelola sanggar, komunitas seni, hingga guru ekstrakurikuler seni di sekolah.
Dalam workshop itu, batas generasi terasa melebur. Pelaku seni muda membawa keberanian bereksperimen, sementara generasi senior menghadirkan pengalaman dan akar tradisi. Semua dipertemukan dalam satu semangat yang sama, menjaga budaya NTB tetap hidup dan relevan di tengah perubahan zaman.
Kegiatan tersebut menghadirkan dua narasumber nasional, yakni Dr. Alfianto dan I Wayan Ari Wijaya. Keduanya membagikan pengalaman tentang bagaimana seni tradisi lokal dapat berkembang menjadi karya yang mampu berbicara di panggung nasional hingga internasional.
Kepala Dinas Kebudayaan NTB, Muhamad Ihwan mengatakan, kebudayaan tidak cukup hanya diwariskan, tetapi juga harus terus dihidupkan melalui ruang-ruang kreatif dan pertunjukan. “Kita tidak ingin seni hanya dikenang sebagai masa lalu. Seni harus menjadi masa depan,” ujarnya, Rabu, 13 Mei 2026.
Menurutnya, tantangan terbesar kebudayaan saat ini bukan sekadar menjaga tradisi tetap ada, tetapi bagaimana membuat generasi muda bangga menjadi bagian dari tradisi tersebut.
Taman Budaya NTB sebagai Laboratorium Kebudayaan
Workshop itu pun tidak hanya berisi materi teori. Sebanyak 10 peserta komposer dan 10 koreografer mendapat ruang khusus untuk memperdalam proses penciptaan karya. Sementara itu, 40 peserta lainnya terlibat langsung sebagai peraga dalam eksplorasi gerak, musikalitas, dan penyusunan pertunjukan.
Suasana diskusi berlangsung hidup. Para peserta saling bertukar gagasan, mencoba memadukan musik tradisional dengan pendekatan kontemporer, hingga mengangkat cerita rakyat lokal dalam bentuk pertunjukan modern.
Melalui kegiatan itu, Taman Budaya NTB ingin mempertegas perannya bukan hanya sebagai gedung pertunjukan, tetapi juga laboratorium kebudayaan. Tempat lahirnya ide, kreativitas, dan regenerasi pelaku seni daerah.
Di bawah visi “NTB Makmur Mendunia”, sektor kebudayaan mulai ditempatkan sebagai bagian penting pembangunan daerah. Sebab, kemajuan daerah tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi juga dari hidupnya kreativitas masyarakat.
NTB dinilai memiliki modal budaya yang sangat besar, mulai dari Gendang Beleq Lombok, musik tradisi Samawa, hingga ragam tari dan ekspresi budaya masyarakat Bima. Potensi itu diyakini dapat berkembang lebih luas jika didukung penguatan sumber daya manusia seni yang berkualitas.
Menjelang sore, suara musik dan latihan tari masih terus berlangsung di dalam gedung workshop. Sebagian peserta masih berdiskusi kecil, sebagian lainnya mengulang gerakan dan menyusun komposisi nada.
Mungkin terlihat sederhana. Namun dari ruang-ruang latihan seperti itulah, mimpi besar kebudayaan NTB sedang mulai dibangun. (Caca)




