Kota Mataram

Akademisi Unram: Kajian Holistik Jadi Kunci Berkelanjutan Penanganan Sampah di Mataram

Mataram (NTBSatu) – Penanganan sampah di Kota Mataram memerlukan kajian mendalam dari berbagai aspek. Setiap program pengelolaan sampah harus melalui studi kelayakan yang matang, mulai dari kajian teknis dan lingkungan, kajian sosial, hingga kajian ekonomi.

Akademisi Ilmu Lingkungan Universitas Mataram (Unram), Ernawati menyebutkan, sebuah kebijakan yang berkelanjutan memerlukan landasan kuat melalui kajian holistik.

“Setiap program perlu kajian lengkapnya. Misalnya dari kajian secara teknisnya, kajian lingkungannya, kemudian ekonomi, dan sosialnya,” jelas Ernawati kepada NTBSatu, Rabu, 13 Mei 2026.

IKLAN

Selain itu, Ernawati menyoroti pentingnya kolaborasi multisektor untuk optimalisasi program penanganan sampah Pemerintahan Kota Mataram. Sehingga, berlangsung secara berkelanjutan.

“Dari sana saja bisa terlihat, jadi semua pihak itu dilibatkan agar pelaksanaannya optimal,” ucapnya.

Ia menjelaskan, tiap sektor memegang tanggung jawab sesuai kapasitasnya. “Pemerintah sebagai fasilitator, akademisi, mahasiswa, dan yang praktisi sebagai pendamping pelaksanaan program agar terus berkelanjutan. Jadi tidak hanya panas di awal, baru masyarakat sebagai ujung tombaknya,” imbuhnya.

IKLAN

Poin krusial dalam kajian holistik ini, adalah memetakan perilaku masyarakat. “Kalau dari sosial itu krusial sekali. Karena mengajak partisipasi, meningkatkan kesadaran masyarakat untuk ikut partisipasi dalam prosesnya,” ucap Ernawati.

Ernawati mengakui, mengubah kebiasaan masyarakat adalah tantangan yang jauh lebih besar daripada menyediakan teknologi. “Kalau penyediaan teknologi, mungkin dari pemerintah, jika dana ada, pasti disediakan. Cuman dari SDM-nya (Sumber Daya Manusia) juga bagaimana menjaga,” imbuhnya.

Menurut Ernawati, kajian seperti ini akan membagi beban penanganan secara proporsional. Di tingkat hulu, ia mendorong masyarakat melakukan pemilahan sederhana. “Di hulu dengan proses pemilahan dan pengolahan sederhana,” kata Ernawati.

Sementara di tingkat hilir, pemerintah mengoptimalkan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) untuk mengolah residu yang tidak bisa selesai penanganannya di rumah tangga. Contohnya, pemanfaatan limbah plastik.

“Di hilirnya, limbah yang tidak bisa diolah langsung oleh masyarakat rumah tangga, kita optimalisasi mungkin dengan TPST,” tutup Ernawati. (Ashri)

Artikel Terkait

Back to top button