Roah Pesisi Sugian Hentikan Aktivitas Melaut Tiga Hari, Tradisi Jaga Ekosistem Laut
Lombok Timur (NTBSatu) – Masyarakat pesisir Desa Sugian, Kecamatan Sambelia, kembali menggelar Festival Roah Pesisi sebagai bentuk syukur atas hasil laut sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem perairan. Tradisi yang telah berlangsung selama sekitar satu dekade itu tidak hanya menghadirkan ritual adat, tetapi juga megatur jeda aktivitas melaut selama tiga hari.
Puluhan kapal nelayan bersama ratusan warga, mengikuti prosesi adat yang menjadi bagian dari warisan budaya masyarakat pesisir tersebut. Mereka memulai rangkaian kegiatan dengan doa bersama sebelum mengarak perahu menuju perairan di sekitar Gili Sulat dan Gili Lawang.
Ketua Panitia Festival Roah Pesisi, Lalu Mustiadi mengatakan, masyarakat menyelenggarakan tradisi itu sebagai ungkapan syukur kepada Allah SWT atas hasil laut yang selama ini menopang kehidupan para nelayan. Warga juga memanjatkan doa agar seluruh nelayan selalu mendapat keselamatan saat mencari nafkah di laut.
“Tradisi ini sudah kami laksanakan kurang lebih sepuluh kali. Ini menjadi bentuk rasa syukur masyarakat nelayan atas rezeki yang Allah SWT berikan,” katanya, Minggu, 2 Agustus 2026.
Namun, menurut Mustiadi, nilai utama Roah Pesisi tidak berhenti pada prosesi adat. Masyarakat juga menerapkan aturan adat yang melarang seluruh aktivitas di laut selama tiga hari setelah ritual berlangsung.
Selama masa tersebut, nelayan tidak melaut maupun memancing. Mereka baru kembali beraktivitas pada hari Rabu.
Aturan itu menjadi bagian dari kearifan lokal yang diwariskan para leluhur, untuk memberi kesempatan ekosistem laut memulihkan diri.
“Di situlah nilai konservasinya. Selama tiga hari tidak ada aktivitas di laut sehingga ekosistem punya waktu untuk pulih. Orang tua kami sudah mengajarkan itu sejak dulu dan sampai sekarang tetap kami jalankan,” ujarnya.
Lakukan Penyesuaian dalam Prosesi
Pada pelaksanaan tahun ini, masyarakat juga melakukan penyesuaian dalam prosesi pelarungan. Jika sebelumnya mereka menggunakan kepala kerbau sebagai bagian dari ritual, kali ini panitia membawa kepala sapi.
Mustiadi menjelaskan, perubahan tersebut mengikuti petunjuk yang diterima salah seorang tokoh adat melalui mimpi. Karena menghormati pesan tersebut, masyarakat sepakat menggunakan kepala sapi dalam prosesi tahun ini.
Rangkaian puncak festival berlangsung dengan arak-arakan puluhan perahu yang mengelilingi perairan Gili Sulat dan Gili Lawang sebanyak tiga putaran. Para nelayan menghias perahu dengan umbul-umbul dan perlengkapan adat sebelum menuju titik pelarungan yang ditetapkan Sandro atau tetua adat.
Menurut Mustiadi, Sandro menentukan lokasi pelarungan setiap penyelenggaraan sehingga titiknya dapat berubah setiap tahun. Meski demikian, prosesi tetap berlangsung di kawasan perairan Gili Sulat dan Gili Lawang.
Antusiasme masyarakat tetap tinggi meski kondisi ekonomi belum sepenuhnya pulih. Tahun ini, sekitar 50 sampan mengikuti iring-iringan, lebih sedikit dibanding beberapa tahun sebelumnya yang mampu melibatkan ratusan perahu.
Melalui Festival Roah Pesisi, masyarakat Sugian tidak hanya menjaga tradisi leluhur, tetapi juga mempertahankan kearifan lokal yang menghubungkan rasa syukur, keselamatan nelayan, dan upaya menjaga kelestarian ekosistem laut. (*)




