Beberuk Aik Pindang Khas Rumbuk Bertahan Lewat Tangan Nur Hasanah
Lombok Timur (NTBSatu) – Aroma terasi yang baru diulek masih menjadi penanda sebuah warung sederhana di kawasan Rumbuk, Kecamatan Sakra, Lombok Timur. Di tempat itu, Nur Hasanah dengan cekatan meracik irisan terong, cabai, dan bumbu sebelum menyiramnya dengan kuah bening air pindang.
Dari dapur kecil itulah, Nur Hasanah menghasilkan seporsi demi seporsi beberuk air pindang khas Rumbuk dengan cita rasa yang tetap sama sejak pertama kali berjualan belasan tahun lalu.
Selama belasan tahun, Nur Hasanah menjaga resep yang ia racik sendiri. Ia tidak pernah tergoda mengganti proses pengolahan dengan peralatan modern. Cobek batu tetap menjadi andalannya karena mampu menghasilkan cita rasa yang lebih nikmat.
“Kalau pakai blender kurang enak. Tetap diulek, biar rasanya keluar,” ujarnya kepada NTBSatu.
Rahasia kelezatan beberuk buatannya terletak pada kuah air pindang. Setiap pagi, Nur Hasanah mendatangkan air rebusan ikan pindang dari Tanjung Luar.
Para penjual di sana lebih dulu merebus ikan layang segar, kemudian memisahkan kuah bening hasil rebusan yang menjadi bahan utama beberuk air pindang.
“Ikan yang dipakai ikan layang kecil-kecil, yang bagus, yang segar-segar. Kalau ikannya segar, air pindangnya enak, tidak amis,” katanya.
Sesampainya di warung, air rebusan tersebut tidak langsung ia gunakan. Nur Hasanah kembali merebusnya sekitar sepuluh menit sambil membuang kotoran yang masih mengapung hingga kuah benar-benar jernih.
“Kita rebus lagi sampai mendidih, kotorannya dibuang semua, baru dipakai,” ucapnya.
Aik Pindang Jadi Ciri Khas
Kuah itulah yang membedakan beberuk aik pindang dengan beberuk pada umumnya. Jika beberuk biasa hanya memadukan sayuran segar dan sambal, racikan Nur Hasanah menggunakan kuah pindang sebagai pelengkap. Ia juga menambahkan sedikit asam agar rasa kuah semakin segar dan seimbang.
“Kasih sedikit asam, biar rasanya lebih enak,” katanya.
Masyarakat Lombok mengenal hidangan ini dengan sebutan beberuk aik pindang. Dalam bahasa Sasak, aik berarti air. Nama itu merujuk pada kuah rebusan ikan pindang yang menjadi ciri utama hidangan tersebut.
Berbeda dengan beberuk pada umumnya yang hanya mengandalkan sambal, beberuk aik pindang memadukan sayuran segar dengan kuah gurih hasil rebusan ikan.
Setia Pertahankan Kualitas
Soal bumbu, Nur Hasanah tidak pernah menurunkan kualitas. Ia memilih terasi udang yang lebih mahal karena percaya kualitas bahan akan menentukan rasa akhir masakan.
“Banyak macam terasi, ada yang murah, ada yang mahal. Saya pilih yang mahal karena lebih enak,” ujarnya.
Nur Hasanah mengulek seluruh bumbu dengan cobek batu hingga halus, sebelum mencampurkannya ke dalam kuah pindang. Meski proses itu lebih melelahkan dibanding menggunakan mesin, ia tetap memilih cara tradisional karena percaya cita rasanya jauh lebih nikmat.
Usaha tersebut bermula dari kebiasaan masyarakat yang gemar menyantap beberuk sebagai pelengkap makanan. Melihat banyak orang menyukainya, Nur Hasanah memberanikan diri membuka usaha kecil di kawasan Rumbuk. Seiring waktu, pelanggan terus berdatangan hingga usahanya mampu bertahan lebih dari satu dekade.
Belasan tahun berjualan membuat usaha sederhana itu menjadi penopang ekonomi keluarganya. Dulu, ia menjual satu porsi beberuk air pindang seharga Rp2.000 hingga Rp3.000.
Kini, hampir seluruh bahan baku mengalami kenaikan harga, mulai dari terasi hingga bumbu dapur. Namun, Nur Hasanah memilih mempertahankan kualitas daripada mengurangi mutu bahan yang ia gunakan.
“Dulu seporsi dua ribu sampai tiga ribu rupiah. Sekarang bahan-bahan sudah mahal semua, tapi usaha ini cukup buat makan keluarga,” tuturnya.
Di tengah perubahan zaman, Nur Hasanah tetap setia mengulek bumbu dengan cobek batu dan menyajikan beberuk air pindang seperti yang ia lakukan sejak pertama kali berjualan.
Nur Hasanah terus menjaga racikan khas Rumbuk sehingga beberuk aik pindangnya tetap menjadi buruan para penikmat kuliner tradisional Lombok. (*)




