Kisah Para Penambang Melawan Dinginnya Arus Sungai Demi Sesuap Nasi
Setelah tambang ilegal di Kuta Lombok Tengah ditutup, titik lain dibuka. Gunung Kongbawi mulai dikeruk lewat aliran air keruh yang diyakini mengandung bulir emas. Alasan warga penambang liar masih sama, terhimpit ekonomi dan pendapatan instan. Bagaimana potretnya?
———————
Di bawah teriknya matahari, angin sepoi-sepoi menyapu lembut wajah para pengais butiran emas di tengah aliran gemericik air sungai di Gunung Kongbawi. Terlihat ratusan penambang fokus dalam kegiatan mendulangnya. Bagi mereka, setiap butiran pasir yang mereka saring bukanlah sekedar harapan akan emas, melainkan pertaruhan antara nasib baik atau berakhir dengan tangan kosong. Sementara di rumah, ada harap yang menunggunya.
“Cair…cair…”
Terdengar teriakan dari arah selatan yang menandakan bahwa ada harapan yang didapatinya setelah berdiam diri dalam dinginnya air sungai.
Senyum tak henti menghiasi sebagian wajah penambang, termasuk Sari. Ia merupakan salah satu dari sekian banyak penambang yang terpaksa terjun dalam tambang yang saat ini legalitasnya masih dipertanyakan.
Saat dihampiri NTBSatu, Sari tersenyum sambil mengangkat toples berisi pasir dengan kilauan emas yang didapatkannya. Ia melantunkan kalimat syukur yang mendalam dengan mata yang berbinar. “Alhamdulillah dapat segini,” tuturnya.
Sari merupakan ibu rumah tangga yang menghidupi empat orang anaknya seorang diri. Harapnya, dengan butiran emas yang didapatinya bisa memberikan kabar baik untuk anak-anak yang menantinya di rumah. “Ke sini cari uang untuk anak-anak,” jelasnya.



