Sapi Masuk Jalur Pendakian Gunung Rinjani, Balai TNGR Tegaskan Pelanggaran SOP
Mataram (NTBSatu) – Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) membenarkan sebuah rekaman video yang memperlihatkan seekor sapi melintasi jalur pendakian terjal Gunung Rinjani, yang belakangan ini viral di media sosial.
Meski begitu, pihak Balai TNGR memastikan peristiwa tersebut merupakan kejadian lama yang jelas melanggar Standard Operating Procedure (SOP) pendakian. Kepala Subbagian Tata Usaha Balai TNGR, Astekita Ardiaristo, membenarkan peristiwa tersebut.
“Peristiwa tersebut merupakan peristiwa yang berlangsung sekitar satu tahun lalu dan telah menjadi bahan evaluasi bagi kami,” ujarnya kepada NTBSatu, pada Senin, 27 Juli 2026.
Evaluasi Prosedur dan Pengawasan
Risto menegaskan, pengelola kawasan tidak membenarkan tindakan membawa hewan ternak ke jalur pendakian. Menurutnya, segala bentuk aktivitas yang menyimpang dari aturan baku pendakian tergolong sebagai pelanggaran SOP.
”Perlu kami sampaikan bahwa tindakan tersebut tidak sesuai dengan SOP Pendakian yang berlaku,” ujar Astekita.
Risto juga mengatakan peristiwa tersebut sebagai momentum untuk memperkuat sistem pengawasan di seluruh pintu masuk kawasan TNGR. Langkah ini bertujuan untuk memastikan seluruh pihak mematuhi tata tertib keselamatan dan kelestarian ekosistem taman nasional.
Selain itu, Risto juga menerbitkan imbauan tegas kepada seluruh pemangku kepentingan pendakian. Aturan ini mengikat calon pendaki, porter, guide, Trekking Organizer (TO), hingga warga lokal di sekitar kawasan.
”Kami mengimbau untuk tidak membawa binatang atau satwa ke dalam kawasan. Apalagi memotongnya di dalam kawasan, karena melanggar SOP,” tuturnya.
Tingkatkan Patroli Jalur
Untuk mengantisipasi pengulangan insiden serupa, TNGR mengintensifkan patroli berkala di sepanjang rute pendakian. Langkah preventif ini berjalan seiring dengan evaluasi komprehensif terhadap kinerja petugas lapangan di setiap pintu masuk pendakian.
”Kami akan meningkatkan pengawasan dan patroli rutin untuk mencegah pelanggaran terjadi,” tegasnya.
Risto juga mengajak masyarakat dan pelaku wisata gunung untuk aktif melaporkan potensi pelanggaran di lapangan. Partisipasi publik sangat menentukan keberhasilan perlindungan kawasan konservasi Gunung Rinjani dari aktivitas luar prosedur.
”Kami mohon juga informasi disampaikan ke kami untuk di-cross check terhadap hal tersebut,” ujarnya. (*)




