Ayah Korban Santri Terbakar Buka Suara Soal Beredarnya Video Terkait Dana Tali Asih
Mataram (NTBSatu) – Rum, ayah salah seorang santri korban terbakar di Lombok Tengah, buka suara mengenai beredarnya rekaman videonya terkait dana tali asih. Sebelumnya, video tersebut menampilkan dirinya sedang berada di Polda NTB pada Kamis, 23 Juli 2026.
Rum secara terbuka meminta pihak pengunggah untuk segera menghapus rekaman tersebut dari media sosial. Ia menegaskan, pengambilan gambar tersebut berlangsung tanpa izin maupun sepengetahuannya.
“Saya terima kasih, tapi saya minta tolong siapa yang memvideokan saya, tolong hapus,” ujarnya pada Kamis, 23 Juli 2026.
Rum menyampaikan keberatannya karena penyebaran rekaman tersebut telah menimbulkan presumsi liar di tengah publik. Padahal menurutnya, narasi yang beredar tidak menggambarkan situasi sebenarnya saat ia tengah memperjuangkan keadilan bagi sang anak.
Awal Mula Peristiwa di Polda NTB
Dalam penjelasannya, Rum mengungkapkan bahwa peristiwa perekaman gambar secara diam-diam itu berlangsung saat ia mendatangi Polda NTB. Ketika itu, Rum tengah fokus berdiskusi mengenai penanganan kasus hukum yang menimpa anaknya bersama LPA Kota Mataram, Joko Jumadi.
”Karena itu video saya tidak tahu siapa yang memvideokan saya. Waktu itu kebetulan saya lagi di Polda. Tahu-tahu sudah ada yang memvideokan waktu saya bicara sama Pak Joko, sama teman-temannya,” lanjutnya.
Ia mengaku kaget saat mengetahui potongan video percakapan internal tersebut mendadak viral di jejaring media sosial. Rum menegaskan kembali bahwa ia tidak pernah merasa menyetujui adanya kamera yang mengarah kepadanya selama diskusi berlangsung.
Imbauan Menghormati Proses Hukum
Sebagai orang tua korban yang sedang mengawal kasus ini, Rum berharap semua pihak dapat menghormati privasi keluarga. Ia juga berharap tidak memanfaatkan situasi ini untuk kepentingan tertentu.
Di sisi lain, ia meminta masyarakat dan para pengguna media sosial fokus mendukung penyelesaian kasus hukum utama agar berjalan secara transparan.
“Saya tidak tahu namanya. Maaf, tolong hapus videonya,” tegasnya.
Oleh karena itu, Rum berharap pengunggah video menunjukkan itikad baik dengan merespons permintaannya demi menjaga ketenangan dan fokus penanganan kasus santri terbakar tersebut. (*)




