Pendaftaran Program PRIMA KSB Ditutup, 293 Orang Berebut 50 Kuota ke Jepang
Sumbawa Barat (NTBSatu) – Pemuda Kabupaten Sumbawa Barat menunjukkan antusiasme tinggi untuk bekerja ke Jepang. Panitia mencatat sebanyak 293 pendaftar resmi mengajukan diri hingga hari penutupan.
Masa pendaftaran Program Peningkatan Resiliensi dan Mutu Pekerja Migran Indonesia (PRIMA) resmi berakhir. Panitia penyelenggara langsung memverifikasi seluruh berkas pendaftar guna mencegah data ganda.
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Sumbawa Barat, Slamet Riadi, S.Pi., membenarkan lonjakan jumlah peminat tersebut. Angka pendaftar naik drastis dari posisi 78 orang pada hari pertama.
“Total pendaftar yang masuk ke sistem mencapai 293 orang hingga hari penutupan,” kata Slamet kepada NTBSatu, Kamis, 23 Juli 2026.
Ratusan pendaftar harus bersaing ketat memperebutkan alokasi kuota yang sangat terbatas. Pemerintah daerah hanya menyediakan alokasi kelulusan untuk 50 peserta terbaik.
Para peserta lulus kelak memproyeksikan pendapatan berkisar Rp20 juta hingga Rp25 juta per bulan. Besaran potensi penghasilan tersebut menyesuaikan standar gaji kawasan industri Jepang.
“Peserta terpilih akan menerima hak gaji sesuai standar pendapatan di negara tujuan,” katanya.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumbawa Barat membebaskan seluruh biaya pelatihan dan pendampingan peserta. Anggaran APBD menanggung komponen biaya program sebesar Rp35 juta per orang.
Sisa kebutuhan akomodasi peserta memanfaatkan fasilitas pinjaman modal dari pihak perbankan. Pemerintah daerah menanggung subsidi bunga agar peserta hanya mengembalikan dana pokok.
“Pemerintah daerah menanggung subsidi bunga bank untuk meringankan beban finansial para peserta,” ujarnya menambahkan.
Seluruh pendaftar wajib mengikuti serangkaian pelatihan dan seleksi awal melalui aplikasi Zoom. Panitia memanfaatkan sistem daring tersebut untuk memetakan minat serta bakat para peserta.
“Pelatihan daring melalui Zoom menjadi sarana pembekalan sekaligus penyaringan minat peserta,” katanya.
Lembaga mitra juga memantau ketat kedisiplinan waktu para peserta selama sesi Zoom berlangsung. “Penilaian kedisiplinan waktu menjadi poin krusial untuk menyesuaikan budaya kerja di Jepang,” pungkasnya. (*)




