NTB

Regenerasi Petani Minim, HKTI NTB Dorong Kampus Perbanyak Praktik Lapangan

Mataram (NTBSatu) – DPD Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) NTB menilai minimnya regenerasi petani mulai mengkhawatirkan.

Kondisi tersebut berpotensi menghambat upaya mewujudkan kedaulatan pangan jika tidak segera mendapat perhatian.

Ketua DPD HKTI NTB, H. Willgo Zainar mengatakan, banyak perguruan tinggi menghasilkan lulusan yang menguasai ilmu pertanian. Namun, sebagian besar justru memilih bekerja di luar sektor pertanian setelah menyelesaikan pendidikan.

IKLAN

Menurutnya, kampus perlu memperkuat praktik lapangan agar mahasiswa mengenal langsung dunia pertanian sebelum menyelesaikan studi.

Ia menilai, pengalaman tersebut mampu meningkatkan minat generasi muda menjadi petani.

“Mahasiswa sebelum lulus harus turun ke lapangan beberapa bulan agar mengenal sektor pertanian secara riil, bukan hanya belajar teori di kampus,” katanya, Selasa, 21 Juli 2026.

Willgo menjelaskan, pemerintah sebenarnya telah membuka ruang lebih luas bagi generasi muda untuk masuk ke sektor pertanian. Peluang tersebut tidak hanya berasal dari usaha pertanian di sawah, tetapi juga sektor kelautan.

Ia mencontohkan program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dan Kampung Nelayan Merah Putih yang dapat menjadi pintu masuk generasi muda mengembangkan usaha di sektor pangan.

Meski begitu, Willgo mengakui anak petani maupun anak nelayan kini semakin banyak memilih profesi lain. Akibatnya, regenerasi pelaku sektor pangan terus mengalami penurunan.

“Kita khawatir sektor pertanian semakin lama semakin berkurang. Akhirnya target mencapai kedaulatan pangan semakin sulit tercapai,” ujarnya.

Selain kampus, Willgo meminta keluarga, lingkungan, dan pemerintah ikut mendorong minat generasi muda menekuni sektor pertanian. Menurutnya, dukungan bersama sangat menentukan keberhasilan regenerasi petani.

Menanggapi usulan pemberian beasiswa khusus bagi pelajar yang ingin menempuh pendidikan pertanian, Willgo menyambut baik gagasan tersebut. Ia menilai langkah itu dapat memperkuat minat generasi muda masuk ke sektor pertanian.

“Kalau sekolah formal pertanian tentu lebih bagus lagi. Beasiswa sebenarnya sudah ada, tetapi penerimanya belum tentu dari sekolah pertanian,” katanya.

Perlunya Pelatihan

Selain pendidikan formal, HKTI juga menjalankan program pelatihan jangka pendek bagi petani. Program tersebut bertujuan meningkatkan kapasitas masyarakat yang ingin terjun ke sektor pertanian.

Willgo juga meminta Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTB aktif mencari generasi muda yang memiliki minat di bidang pertanian.

“Mereka perlu memperoleh pelatihan meski tidak menempuh pendidikan formal pertanian,” tambahnya.

Menurutnya, sektor pertanian masih menawarkan peluang ekonomi yang menjanjikan. Karena itu, generasi muda perlu melihat pertanian sebagai peluang usaha, bukan sekadar pekerjaan turun-temurun.

“Pertanian masih sangat menjanjikan. Ini bukan hanya soal passion, tetapi juga peluang yang besar,” ujarnya.

Sebagai langkah lanjutan, HKTI NTB akan menggelar program literasi pertanian bagi generasi muda di desa.

Program tersebut akan menyasar Karang Taruna melalui kerja sama dengan pemerintah desa dan Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (Apdesi). (*)

Artikel Terkait