Kota Mataram

Banjir Rendam 110 Hektare Sawah di Mataram, Petani Merugi-Pemkot Tidak Sediakan Ganti Rugi

Mataram (NTBSatu) – Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kota Mataram pada awal Juli 2025, meninggalkan dampak signifikan terhadap sektor pertanian. Sedikitnya 100 hingga 110 hektare sawah terendam air, menimbulkan kerugian besar dan ancaman gagal panen bagi para petani.

Namun demikian, Dinas Pertanian Kota Mataram menyatakan tidak dapat memberikan ganti rugi atas kerusakan yang para petani alami.

“Kami tidak memiliki alokasi anggaran untuk penggantian kerugian akibat bencana. Oleh karena itu, sejak awal kami selalu menganjurkan para petani untuk mengikuti program asuransi pertanian,” ujar Plt Kepala Dinas Pertanian Kota Mataram, Irwan Harimansyah, Senin, 28 Juli 2025.

Irwan menegaskan, program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) dari Asuransi Jasindo merupakan bentuk perlindungan untuk mengantisipasi risiko gagal panen akibat bencana alam, serangan hama, dan penyakit tanaman. Meskipun program ini telah disosialisasikan, tingkat partisipasi petani dinilai masih rendah.

“Salah satu kendala utama adalah kurangnya kesadaran petani terhadap pentingnya perlindungan melalui asuransi. Padahal, dengan kondisi cuaca yang semakin sulit diprediksi, risiko gagal panen semakin tinggi,” ungkapnya.

IKLAN

Ia mencontohkan, kejadian hujan deras yang terjadi baru-baru ini sebagai bukti nyata pentingnya asuransi.

“Jika hujan deras seperti kemarin itu diantisipasi dengan asuransi, tentu beban petani akan lebih ringan. Sayangnya, masih banyak yang enggan mendaftar,” kata Irwan.

Dampak Terbesar di Mandalika dan Dasan Cermen

Dinas Pertanian Kota Mataram mencatat, wilayah dengan dampak paling parah adalah Kecamatan Sandubaya dan Sekarbela.

Di Kelurahan Mandalika, total lahan pertanian yang terdampak banjir mencapai 53,85 hektare, akibat jebolnya saluran irigasi. Di Kelurahan Dasan Cermen, banjir merendam sekitar 23,20 hektare sawah.

Sedangkan, Kelurahan Bertais melaporkan kerusakan pada 1 hektare lahan dengan kerugian diperkirakan mencapai Rp10 juta.

IKLAN

Pada saat kejadian, usia tanaman padi baru mencapai 7 hari setelah tanam (HST). “Seluruh wilayah terdampak telah kami data, dan laporan dari penyuluh di lapangan sudah kami terima,” tutur Irwan.

Meskipun demikian, Irwan mengakui, pihaknya belum menerima data lengkap mengenai jumlah petani, kelompok maupun perorangan yang terdampak banjir dan belum terdaftar dalam program asuransi.

“Data rinci mengenai itu masih dalam proses pengecekan,” tambahnya.

1 2Laman berikutnya

Berita Terkait

Back to top button