Kaling Gomong Baru Soroti Kesiapan Program Tempah Dedoro
Mataram (NTBSatu) – Program Tempah Dedoro yang digulirkan Pemerintah Kota Mataram sebagai upaya pengelolaan sampah dari hulu dinilai belum sepenuhnya siap diterapkan di seluruh lingkungan.
Di lapangan, kebijakan tersebut menghadapi sejumlah kendala teknis, terutama terkait kondisi geografis dan keterbatasan lahan.
Kepala Lingkungan (Kaling) Gomong Baru, R.Bambang Wijanarko SP, mengungkapkan kebingungan pihak lingkungan akibat cepatnya pergantian program penanganan sampah.
Menurutnya, sosialisasi pemilahan sampah organik dan anorganik menggunakan kantong plastik hitam dan putih belum berjalan optimal, namun sudah disusul dengan kebijakan baru berupa pembuatan Tempah Dedoro.
“Program yang satu baru kita sosialisasikan, baru berjalan, sudah ada lagi program baru dari Lingkungan Hidup untuk membuat Tempah Dedoro. Ini yang membuat kami di bawah agak bingung,” ujarnya kepada NTBSatu, Minggu, 8 Februari 2026
Bambang menilai setiap kebijakan baru seharusnya didahului dengan kajian teknis dan penyesuaian kondisi di lapangan. Ia menekankan, karakteristik tiap lingkungan berbeda dan tidak dapat disamaratakan.
Ia menjelaskan, penerapan Tempah Dedoro sulit dilakukan secara maksimal di wilayah Gomong Baru karena tingginya permukaan air tanah. Kondisi tersebut membuat lubang organik tidak bisa digali sesuai kedalaman yang dianjurkan.
“Di wilayah saya, begitu kita gali dua meter, air sudah keluar. Jadi seperti sumur. Paling maksimal hanya bisa 1,5 meter,” jelasnya.
Dengan kedalaman yang terbatas, Bambang memperkirakan lubang Tempah Dedoro akan cepat penuh, bahkan hanya dalam waktu sekitar 10 hari.
Hal itu dinilai berpotensi membuat program tidak efektif jika diterapkan tanpa evaluasi teknis yang matang.
Selain persoalan air tanah, keterbatasan lahan juga menjadi kendala serius, khususnya di kawasan permukiman padat penduduk. Banyak rumah warga yang tidak memiliki halaman cukup untuk pembuatan lubang organik.
“Kalau di tempat yang padat, halaman hampir tidak ada. Di mana mau ditaruh lubangnya?” tambahnya.
Bambang menilai kebijakan awal berupa pemilahan sampah menggunakan kantong plastik hitam dan putih lebih realistis diterapkan di tingkat rumah tangga saat ini.
Metode tersebut dianggap lebih fleksibel dan memudahkan petugas kebersihan dalam proses pengangkutan sampah menuju tempat pengolahan.
Meski demikian, Bambang menegaskan pihaknya tetap siap mendukung program Pemkot Mataram, termasuk jika ditetapkan sebagai lokasi percontohan.
Ia berharap kebijakan pengelolaan sampah ke depan lebih mempertimbangkan kondisi riil di tiap lingkungan, sehingga solusi yang diterapkan benar-benar efektif dan berkelanjutan bagi masyarakat Kota Mataram. (Salsa)



