Inflasi Sumbawa Awal 2026 Terendah di NTB, Harga Cabai Rawit Mulai “Pedas”
Sumbawa Besar (NTBSatu) – Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sumbawa, merilis angka inflasi periode Februari 2026. Meski tercatat paling rendah se-NTB, fluktuasi harga komoditas pokok seperti cabai rawit mulai memberikan andil kenaikan harga yang signifikan.
Kepala BPS Kabupaten Sumbawa, Yudi Wahyudin mengungkapkan, rilis data per 2 Maret 2026 menunjukkan angka inflasi tahunan (year–on-year) Sumbawa berada pada posisi 4,88 persen. Capaian ini menempatkan Sumbawa di bawah Kota Mataram sebesar 5,49 persen dan Kota Bima sebesar 6,40 persen.
”Perbandingan dengan kabupaten/kota lain di NTB, kita paling rendah secara year–on–year,” ungkap Yudi kepada NTBSatu, Rabu, 4 Maret 2026.
Yudi menjelaskan, secara bulanan (month–to–month), Kabupaten Sumbawa mengalami inflasi sebesar 0,67 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) menyentuh level 111,60. Kenaikan harga sejumlah komoditas dapur memicu lonjakan inflasi bulanan tersebut.
Yudi merinci lima komoditas utama yang memberikan andil inflasi terbesar. Cabai rawit menempati posisi puncak sebagai pemicu utama kenaikan harga di pasar.
”Andil paling besar berasal dari cabai rawit, emas perhiasan, udang basah, cumi-cumi, dan kol putih. Lima komoditas ini paling tinggi mempengaruhi inflasi,” jelasnya.
Menariknya, BPS Sumbawa menemukan anomali pada satu kelompok pengeluaran yang justru menunjukkan tren penurunan harga di tengah tren inflasi sektor lainnya.
”Semua kelompok pengeluaran mengalami inflasi, kecuali kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya. Sektor tersebut justru mengalami deflasi,” tambahnya.
Yudi juga menjelaskan, metode penghitungan inflasi melalui tiga angka utama, yakni year–on–year, year–to–date, dan month–to–month. Ia menegaskan, hal tersebut bertujuan memantau pergerakan harga secara akurat setiap awal bulan.
”Kita membandingkan IHK bulan berjalan dengan bulan yang sama tahun lalu untuk year–on–year. Sedangkan month–to–month membandingkan dengan bulan sebelumnya,” jelasnya. (*)



