Awal 2026 Dibuka dengan Tekanan Biaya Hidup, Tarif Listrik dan Emas Picu Lonjakan Inflasi Sumbawa
Sumbawa Besar (NTBSatu) – Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sumbawa mencatat, inflasi tahunan (year on year/y–on–y) Januari 2026 mencapai 3,77 persen. Meningkat tajam dari periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Kenaikan inflasi ini akibat lonjakan tarif listrik, harga emas, serta sejumlah komoditas konsumsi masyarakat.
Data BPS menunjukkan, Indeks Harga Konsumen (IHK) Sumbawa naik dari 106,83 pada Januari 2025 menjadi 110,86 pada Januari 2026. Hal ini menandakan meningkatnya tekanan harga di berbagai sektor pengeluaran rumah tangga.
Kepala BPS Kabupaten Sumbawa, Yudi Wahyudin mengungkapkan, inflasi terjadi karena mayoritas kelompok pengeluaran mengalami kenaikan harga.
“Inflasi Januari 2026 mencapai 3,77 persen. Karena kenaikan harga terjadi pada sepuluh dari sebelas kelompok pengeluaran masyarakat,” ungkap Yudi, Jumat, 6 Februari 2026.
Lonjakan tertinggi tercatat pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang melesat hingga 23,46 persen.
Kemudian, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 14,43 persen. Menurut Yudi, kenaikan tarif listrik menjadi faktor dominan yang langsung memengaruhi struktur pengeluaran rumah tangga.
“Tarif listrik menjadi komoditas yang memberi andil terbesar terhadap inflasi, diikuti kenaikan harga emas perhiasan,” jelasnya.
Selain sektor energi, tekanan harga juga datang dari kebutuhan konsumsi harian. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi 1,40 persen akibat kenaikan harga ikan teri, ikan layang, daging ayam ras, hingga minyak goreng yang menjadi bahan konsumsi utama masyarakat Sumbawa.
Ia menambahkan, tidak semua komoditas mengalami kenaikan. BPS mencatat sejumlah bahan pangan justru menekan laju inflasi, seperti cabai rawit, cabai merah, tomat, dan beras.
“Beberapa komoditas hortikultura, seperti cabai dan beras mengalami penurunan harga, sehingga menahan inflasi agar tidak meningkat lebih tinggi,” tambahnya.
Tantangan Stabilitas Daya Beli Masyarakat Sumbawa
Secara bulanan, inflasi Januari 2026 tercatat sebesar 0,80 persen sekaligus menjadi inflasi kumulatif tahun berjalan (year to date/y–to–d) di angka yang sama. Angka ini menunjukkan tekanan harga sudah terasa sejak awal tahun.
Kenaikan inflasi tahun ini juga menunjukkan lonjakan signifikan dari Januari 2025 yang hanya sebesar 0,18 persen. Bahkan lebih tinggi dari Januari 2024 yang berada di angka 3,14 persen.
Selain listrik dan emas, komoditas pangan laut seperti ikan bandeng, tongkol, cumi-cumi, dan udang basah turut memberi kontribusi terhadap kenaikan inflasi bulanan. Kondisi ini menandakan tingginya ketergantungan masyarakat Sumbawa pada komoditas laut yang sensitif terhadap faktor cuaca dan distribusi.
“Kenaikan harga komoditas pangan laut juga memberi sumbangan inflasi, terutama pada pergerakan harga bulanan,” tambahnya.
Kondisi inflasi ini berpotensi meningkatkan beban pengeluaran masyarakat, khususnya kelompok berpendapatan menengah ke bawah. “Lonjakan biaya energi dan kebutuhan konsumsi ini, menjadi tantangan bagi stabilitas daya beli masyarakat Sumbawa di awal tahun 2026 ini,” ujarnya. (Marwah)



