Kota Mataram Dilanda Banjir Terbesar dalam 40 Tahun Terakhir, BPBD Paparkan Data Lengkap dan Tindakan Lanjutan

Mataram (NTBSatu) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Mataram mencatat banjir yang terjadi pada Minggu, 6 Juli 2025, merupakan yang terbesar dalam 40 tahun terakhir.
Berdasarkan laporan resmi, sebanyak 10.001 kepala keluarga atau 39.370 jiwa terdampak langsung akibat curah hujan ekstrem yang mengguyur sejak sore hari.
Sebanyak 17 warga mengalami luka atau sakit, satu orang meninggal dunia, dan satu lainnya masih dalam pencarian.
Plt Kepala BPBD Kota Mataram, Ahmad Muzaki menjelaskan hampir seluruh kecamatan terdampak, terutama wilayah padat penduduk.
“Hampir semua kecamatan terkena dampak. Yang paling parah berada di Ampenan, Selaparang, Mataram, Sandubaya, dan Sekarbela. Hanya beberapa titik seperti Pagutan Barat dan Monjok Timur yang relatif aman,” ujarnya, Jumat 18 Juli 2025.
Selain kerusakan terhadap pemukiman warga, infrastruktur juga terdampak cukup serius, yaitu 91 rumah rusak ringan, 50 rumah rusak sedang, dan 39 rumah mengalami rusak berat. Kemudian, tiga jembatan, dua fasilitas air bersih rusak, dan satu fasilitas perhubungan lumpuh.
Tak hanya itu, 11 fasilitas pendidikan dan kesehatan, empat tempat ibadah, 16 kantor layanan publik, serta satu pasar terendam banjir.
Terkait akar penyebab bencana, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan, banjir ini dipicu oleh aktivitas gelombang atmosfer Madden Julian Oscillation (MJO) yang memperlambat pergerakan awan hujan di wilayah Indonesia bagian tengah.
Hal ini tambah parah dengan pembentukan awan konvektif seperti Cumulonimbus, yang menghasilkan hujan sangat deras dalam waktu singkat.
“Fenomena MJO yang aktif, ditambah pembentukan awan-awan konvektif, membuat intensitas hujan meningkat drastis dan sistem drainase kota tidak mampu menampungnya,” ungkap Kepala Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid Lombok, Satria Topan Primadi.