Terpopuler Setelah Rinjani, Bukit Anak Dara Masih Terkendala Jalan Rusak
Lombok Timur (NTBSatu) – Bukit Anak Dara yang terletak di Sembalun Lawang, Kecamatan Sembalun, Lombok Timur, menjelma menjadi salah satu destinasi pendakian populer masyarakat. Popularitasnya bahkan berada di urutan kedua setelah Gunung Rinjani.
Namun, akses menuju kawasan wisata itu masih memprihatinkan. Jalan sepanjang sekitar 3,5 kilometer menuju lokasi mengalami kerusakan, dan belum tersentuh perbaikan pemerintah.
Ketua Pengelola Parkir Bukit Anak Dara, Putramsyah mengatakan, kerusakan jalan menjadi keluhan utama wisatawan lokal maupun turis mancanegara.
“Kami berharap pemerintah membantu rabat atau mengaspal jalan menuju Bukit Anak Dara,” ujarnya kepada NTBSatu, Senin, 6 Juli 2026.
Menurutnya, pemerintah belum pernah memberikan bantuan sejak kawasan wisata itu mulai berkembang pada 2016. Ia mengatakan, masyarakat dan petani justru membangun akses jalan secara swadaya.
“Kami membuat jalan ini dari nol. Sedikit demi sedikit kami rabat memakai uang petani dan masyarakat,” katanya.
Putramsyah mengaku, pernah mengusulkan perbaikan jalan kepada pemerintah desa. Namun, hingga kini usulan tersebut belum mendapat tindak lanjut. Ia menyebut, kondisi tersebut tidak sebanding dengan popularitas Bukit Anak Dara.
“Kalau popularitas, kami nomor dua setelah Rinjani. Tapi belum ada perhatian pemerintah untuk jalan ini,” ujarnya.
Menurutnya, seluruh ruas jalan dari jalan utama hingga area parkir mengalami kerusakan. Panjang jalan yang rusak mencapai sekitar 3,5 kilometer.
“Jalan ini harus diperhatikan. Banyak tamu asing mengeluhkan akses menuju Bukit Anak Dara,” katanya.
Warga Bangun Wisata, Pemerintah Nikmati PAD
Petani Orong Guar yang juga menjaga parkir Bukit Anak Dara, Indra mengatakan, masyarakat membangun fasilitas wisata secara mandiri. Ia menilai, semangat warga justru tumbuh lebih dahulu daripada dukungan pemerintah.
“Masyarakat membangun jalan dan menyediakan lahan secara mandiri,” ujarnya.
Menurut Indra, pemerintah menerima bagian lebih besar dari pendapatan tiket wisata. Namun, masyarakat belum merasakan dukungan yang sepadan.
“Ketika wisata sudah ramai, PAD masuk ke pemerintah. Kami berharap perhatian juga datang ke masyarakat,” katanya.
Selain jalan, warga juga mengusulkan jaringan listrik sejak 2025. Mereka membutuhkan listrik untuk aktivitas pertanian dan pelayanan wisatawan.
“Kami mengajukan listrik dengan melampirkan ratusan KTP petani. Sampai sekarang belum terealisasi,” ujarnya.
Indra berharap pemerintah segera memperbaiki infrastruktur dasar agar perkembangan wisata memberi manfaat bagi masyarakat sekitar. “Kalau akses dan listrik membaik, wisatawan pasti semakin nyaman datang ke sini,” katanya.
Kewenangan BKPH Terbatas
Lebih lanjut, Kepala Balai Kesatuan Pengelolaan Hutan Wilayah II, Dadan Kuswardhana menyebut, kewenangan BKPH untuk memutuskan pembangunan akses jalan cukup terbatas.
“Kewenangan kami terbatas, kami juga masih dalam kondisi identifikasi dan verifikasi kondisi lapangan agar bisa melaporkan kondisi ke pengambil keputusan. Itu pun kondisi lapangan kadang dinamis,” ujar Dadan kepada NTBSatu, Senin, 6 Juli 2026, malam .
Dadan juga menjelaskan, BKPH tidak bisa bekerja sendiri tanpa bantuan eksekutif dan legislatif. “Kita perlu juga keterlibatan Bupati ataupun Ketua DPRD melalui pokirnya untuk mewujudkan harapan masyarakat ini,” jelasnya.
Sebagai informasi, Bukit Anak Dara memiliki ketinggian 1.923 meter di atas permukaan laut itu terkenal dengan panorama savana, jalur Tanjakan Cinta, serta pemandangan langsung ke Gunung Rinjani. Kawasan tersebut menjadi salah satu tujuan favorit wisatawan domestik maupun mancanegara setelah Rinjani. (*)




