Dispar Lombok Tengah Ajak Desa dan Masyarakat Cegah Pembakaran Lahan di Sekitar Mandalika
Lombok Tengah (NTBSatu) – Dinas Pariwisata (Dispar) Lombok Tengah mengajak pemerintah desa, pemerintah kecamatan, dan masyarakat memperkuat pengawasan terhadap pembakaran lahan yang kerap terjadi di sekitar kawasan The Mandalika.
Kepala Dinas Pariwisata Lombok Tengah, Lalu Muhammad Hatta mengatakan, pencegahan pembakaran lahan tidak bisa hanya menjadi tanggung jawab satu instansi saja.
Menurutnya, seluruh pihak perlu berperan aktif mengedukasi dan mengingatkan masyarakat agar tidak membakar lahan maupun sampah. Terutama jika berpotensi mengganggu aktivitas warga dan wisatawan.
“Harapannya masyarakat setempat, pemerintah desa, dan pemerintah kecamatan ikut melakukan pengawasan serta memberikan imbauan kepada warga. Bukan hanya di daerah wisata, tetapi juga di daerah lain yang sekiranya bisa mengganggu,” jelasnya kepada NTBSatu, Kamis 2 Juli 2026.
Hatta mengungkapkan, hingga kini Dinas Pariwisata Lombok Tengah belum menerima laporan maupun keluhan langsung dari wisatawan mengenai asap pembakaran lahan di kawasan Mandalika. Meski demikian, ia tidak menampik bahwa setiap orang dapat memiliki penilaian yang berbeda terhadap kondisi tersebut.
“Untuk sementara belum ada yang saya dengar,” ujarnya.
Menurutnya, persoalan pembakaran lahan perlu menjadi perhatian bersama karena berkaitan dengan kenyamanan masyarakat dan wisatawan.
Namun, ia menegaskan pembinaan terkait pengelolaan lahan, unsur hara tanah, hingga pencegahan kebakaran merupakan kewenangan organisasi perangkat daerah (OPD) teknis.
Karena itu, Dinas Pariwisata lebih berfokus membangun kesadaran masyarakat untuk menjaga citra daerah sebagai destinasi wisata. Ia berharap kebiasaan membakar lahan maupun sampah dapat berkurang melalui kolaborasi lintas sektor.
“Silakan kita sama-sama menjaga daerah kita sebagai daerah wisata. Paling tidak jangan membakar sampah,” katanya.
Sebelumnya, NTBSatu menerima keluhan dari wisatawan yang menilai asap pembakaran lahan di sekitar Pantai Tanjung Aan hingga jalur bypass menuju Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika mulai mengganggu pengalaman berwisata.
Kepulan asap kerap muncul hampir setiap hari dan mengganggu aktivitas wisata, termasuk saat menikmati matahari terbenam di Pantai Tanjung Aan.(*)




