Daerah NTB

Gas Elpiji dan Pertalite di NTB Kembali Langka

Mataram (NTBSatu) – Kelangkaan gas elpiji 3 kilogram dan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis pertalite kembali terjadi di sejumlah wilayah di NTB. Kondisi ini mulai masyarakat keluhkan, karena menyulitkan aktivitas sehari-hari, terutama bagi pelaku usaha kecil dan rumah tangga.

Fenomena ini bukan kali pertama terjadi. Beberapa waktu lalu, warga di berbagai daerah juga sempat merasakan fenomena kelangkaan ini.

IKLAN

Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat, apalagi dengan adanya eskalasi konflik di Timur Tengah yang kian memanas.

Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) NTB, Samsudin memastikan, kekurangan stok tersebut bukan dampak perang Amerika dan Israel vs Iran. Melainkan murni karena adanya hari raya besar, yaitu Ramadan dan menjelang Idul Fitri.

IKLAN

“Kebutuhan akan gas elpiji dan bahan bakar meningkat akibat tingginya mobilitas mudik-balik,” katanya, Rabu, 25 Maret 2026.

IKLAN

Untuk memastikan ketersediaan elpiji dan Pertalite, Dinas ESDM bersama dengan Pertamina akan melakukan Inspeksi Dadakan (Sidak) ke sejumlah SPBU.

Memastikan kebutuhan masyarakat terhadap elpiji terpenuhi selama bulan Ramadan, Pertamina telah melakukan distribusi tambahan hingga 250 persen pada 17, 18, 19, 22, dan 25 Maret 2026.

“Jadi total 250 persen dari alokasi harian sudah kita salurkan selama masa kemarin, kurang lebih 87.360 tabung,” katanya.

Per hari ini saja, kata dia, Pertamina melakukan tambahan distribusi hingga 50 persen atau sekitar 50 ribu tabung gas elpiji.

Menurutnya, elpiji selama puasa tidak mengalami kelangkaan, melainkan adanya peningkatan konsumsi masyarakat sehingga kebutuhan belum terpenuhi. Di Kota Mataram, contohnya kebutuhan elpiji terpenuhi selama satu bulan penuh.

“Kemungkinan menurut kami karna ada pergeseran konsumsi yang disebabkan banyak pemudik yang berdomisili asli dari lotim, termasuk Karyawan Swasta, bahkan ASN dan Mahasiswa yang mungkin selama ini tinggal dan bekerja di Kota Mataram, ataupun daerah lain. Karena polanya sekarang konsumsi di kota yang menurun,” jelasnya.

Adapun soal adanya dugaan temuan penjualan gas elpiji jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET), Mantan Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Pengendalian Pencemaran DLHK NTB itu mengaku tidak bisa melakukan tindakan apabila penjualan dilakukan di tingkat pengecer. Sebab, kewenangan pemerintah hanya sampai kepada distributor.

“Kalau Pengecer kan itu di luar lagi karena tidak terkait dengan Pertamina. Tapi kita beri peringatan untuk Pertamina,” ucapnya.

Kekosongan Bersifat Sementara

Terpisah, Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, menjelaskan, kekosongan yang sempat terjadi di beberapa pangkalan bersifat sementara. Kondisi ini terjadi karena stok yang tersedia telah tersalurkan kepada konsumen sesuai jadwal distribusi.

Menurutnya, peningkatan konsumsi masyarakat menjelang Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri, serta persiapan Lebaran Ketupat, menjadi faktor utama meningkatnya permintaan elpiji di lapangan.

“Terjadi peningkatan konsumsi karena masyarakat cenderung melakukan pembelian lebih awal untuk kebutuhan hari raya,” ujar Ahad.

Berdasarkan hasil pengecekan di lapangan pada Minggu, 22 Maret 2026, stok elpiji masih tersedia di sejumlah pangkalan. Di Desa Ketangga, Lombok Timur, salah satu pangkalan tercatat memiliki stok hingga 200 tabung. Sementara itu, di Kecamatan Batukliang, Lombok Tengah, stok di beberapa pangkalan berkisar antara 100 hingga 140 tabung. (*)

Muhammad Yamin

Jurnalis NTBSatu

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button