Daerah NTB

Kemarau Panjang Ancam NTB, BMKG Ungkap Wilayah Rawan Kekeringan

Mataram (NTBSatu) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Klimatologi NTB mengingatkan potensi kemarau lebih panjang sekaligus lebih kering di wilayah NTB. Kepala Stasiun Klimatologi NTB, Nuga Putrantijo menjelaskan, pola musim tahun ini bergeser dari kondisi normal.

“Untuk musim kemarau tahun ini maju dari normalnya dan berakhirnya agak mundur dari normal juga. Kesimpulannya kemarau tahun ini lebih panjang dari kemarau tahun sebelumnya,” ujarnya kepada NTBSatu pada Jumat, 10 April 2026.

IKLAN

Prediksi pada 27 Zona Musim (ZOM) menunjukkan, awal kemarau umumnya berlangsung pada April dasarian pertama dengan cakupan sekitar 74 persen wilayah. Sebagian wilayah lain mulai memasuki fase kering sejak Maret hingga awal Mei.

Jika dibandingkan periode normal tahun 1991–2020, sekitar 70 persen wilayah mengalami kemarau lebih cepat. Sementara itu, 15 persen wilayah berada pada kondisi normal dan 15 persen lainnya mengalami sedikit keterlambatan.

Dari sisi curah hujan, kondisi kering mendominasi hampir seluruh wilayah. Sekitar 93 persen wilayah NTB menunjukkan sifat hujan Bawah Normal, yang menandakan tingkat curah hujan lebih rendah dari rata-rata tahunan.

Puncak Kemarau dan Wilayah Rawan Kekeringan

Nuga Putrantijo juga menegaskan, waktu puncak kemarau yang perlu menjadi perhatian utama masyarakat. “Untuk NTB puncak musim kemarau ada di bulan Juli dan Agustus,” katanya.

Sebagian besar wilayah atau sekitar 89 persen diperkirakan mencapai puncak kemarau pada Agustus. Sementara itu, sebagian kecil mengalami puncak pada periode lain yang masih berada dalam rentang normal.

Durasi kemarau juga cenderung lebih panjang, dengan sekitar 89 persen wilayah mengalami musim kering lebih lama dari biasanya, yakni berkisar antara 25 hingga 27 dasarian. Kondisi tersebut meningkatkan risiko kekeringan di sejumlah daerah, khususnya untuk wilayah Lombok bagian Selatan dan Pulau Sumbawa.

“Untuk potensi kekeringan yang perlu diwaspadai adalah wilayah Lombok bagian Selatan dan wilayah Sumbawa ada di wilayah Bima dan Dompu,” jelasnya.

Situasi ini menuntut langkah antisipasi dari berbagai sektor, terutama pertanian dan pengelolaan sumber daya air. Pemilihan varietas tanaman yang tahan kekeringan serta pengaturan sistem irigasi yang efisien menjadi strategi penting untuk menjaga produktivitas.

Selain itu, pengelolaan cadangan air secara optimal dapat membantu masyarakat menghadapi tekanan musim kemarau yang lebih panjang.

Secara keseluruhan, prakiraan ini menunjukkan bahwa NTB menghadapi tantangan serius pada musim kemarau 2026. Sehingga, kesiapan sejak dini menjadi kunci untuk meminimalkan dampak yang muncul. (*)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button