Kampung Internet Komdigi, Jendela Desa Jeruk Manis ke Mata Dunia
Mataram (NTBSatu) – Dari pusat Kota Mataram, butuh waktu sekitar dua jam untuk sampai di Desa Jeruk Manis, Kecamatan Sikur, Kabupaten Lombok Timur. Jaraknya sekitar 53 kilometer.
Siang di bawah matahari yang sedang menyebarkan sinarnya, dua mobil Hi-Ace melaju dari Desa Setanggor, Kecamatan Praya Barat, Lombok Tengah menuju Desa Jeruk Manis. Salah satu desa masuk wilayah Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR).
Desa Jeruk Manis, terlihat masih sejuk dan asri. Bangunannya masih mempertahankan ciri khas lokal. Belum disentuh proyek-proyek
Saat musim dingin, suhu di desa tersebut bisa menyentuh 13 hingga 14 derajat Celsius. Desa Jeruk Manis menyimpan kisah tentang desa yang perlahan membuka jendela ke dunia.
Desa ini terdiri dari empat dusun; Kebon Baru, Gawah Buak, Barang Panas, dan Erat Tanggek Mayung, dengan penduduk sekitar 2.500 jiwa.
Nama Jeruk Manis tak asing bagi pencinta alam. Air Terjun Jeruk Manis, Air Terjun Bunter, hingga Air Terjun Sarang Walet menjadi magnet wisatawan. Lokal maupun mancanegara.
Namun di balik keelokan itu, Jeruk Manis pernah menghadapi persoalan mendasar: keterisolasian digital. Akses internet yang sulit, menyebabkan hamparan keindahan di desa tersebut tertutup. Hanya hidup di lingkungan lokal.
“Kami dulu jangankan akses internet, jaringan telepon saja susah,” kenang Kepala Desa Jeruk Manis, Nasipudin, Rabu, 22 April 2026.
Air terjun tetap mengalir, homestay mulai tumbuh, tetapi promosi nyaris jalan di tempat.
Perubahan mulai terasa ketika Program Kampung Internet dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) masuk ke desa ini.
Program Kampung Internet bertujuan memeratakan akses internet kabel (fixed broadband) ke pelosok desa. Dua desa yang ada di Lombok, yaitu Desa Setanggor dan Jeruk Manis, jadi sasaran.
Program ini memberikan stimulan layanan internet gratis selama 6-12 bulan untuk mendukung UMKM dan fasilitas umum, serta melatih warga setempat menjadi teknisi jaringan.

Kepala Desa Jeruk Manis, Nasipudin menyampaikan, keberadaan program Kampung Internet dari Kemkomdigi, membantu memperkenalkan keindahan Desa Jeruk Manis kepada dunia. Desa Jeruk Manis sendiri merupakan salah satu desa wisata yang ada di Kabupaten Lombok Timur.
Ia menceritakan, sebelum disentuh program Kampung Internet ini, Desa Jeruk Manis, sangat kesulitan akses internet. Di tengah arus digitalisai yang semakin massif, masyarakat setempat justru terkurung dalam keterbatasan informasi.
Keterbatasan akses internet, membuat potensi yang ada di desa tersebut hanya sekadar diketahui oleh masyarakat lokal. Padahal, sebelumnya sudah tumbuh tempat-tempat penginapan atau homestay.
“Kampung Internet ini sangat membantu kami masyarakat desa Jeruk Manis yang dulunya itu belum memiliki akses untuk internet. Tetapi dengan adanya program ini, masyarakat kami bahkan kami juga dari pemerintah desa itu bisa bekerja lebih maksimal,” jelasnya.
Setelah adanya program ini, masyarakat, pelaku UMKM, kini bisa mengakses internet.
Terdapat 70 titik menjadi sasaran penerima manfaat dalam program ini, khusus di Desa Jeruk Manis. Tersebar di empat dusun dan rata-rata di empat dusun tersebut sudah bisa mengakses internet.
“jadi kalau dari program ini ada 70-an titik yang ada di desa dan itu sudah diberikan juga kepada UMKM-UMKM kita, paling dominan untuk pelaku usaha di bidang homestay,” jelasnya.
Ia menjelaskan, keterbatasan akses internet menjadi tantangan serius. Terutama pada UMKM yang bergerak pada bidang pariwisata. Seperti usaha penginapan atau homestay dan sejenisnya. Terlebih, sumber utama penghasilan masyarakat sekitar bergantung pada sektor pariwisata.
“Karena yang menjadi tantangan kami di sini, para UMKM itu terlebih di bidang wisata, rata-rata wisatawan yang datang ke kami itu yang jadi keluhannya itu adalah internet,” katanya.
Ia menyampaikan, rata-rata wisatawan yang datang ke Desa Jeruk Manis, tidak hanya datang untuk berwisata, namun juga ada yang sambil bekerja. Karena itu, pengusaha homestay atau fasilitas penginapan itu dituntut untuk memiliki jaringan internet, agar bisa memberikan pelayanan yang baik kepada tamunya.
“Itu yang kami rasakan di sini. Karena orang-orang datang berwisata ke kami, tidak hanya berwisata tentang menikmati alam, tapi dia itu juga sambil kerja,” ungkapnya.
Di Desa Jeruk Manis, pembanguna homestay atau penginapan mulai tahun 2023, saat itu jumlahnya baru ada 50 unit. Keterbatasan akses internet menyebabkan promosi potensi desa tersebut tidak maksimal. Menyebabkan banyak wisatawan tidak mengetahui tempat tersebut.
Namun setelah ada Program Kampung Internet, promosi semakin digencarkan. Terutama, melalui media sosial. Seperti Instagram, Facebook, dan sejenisnya.
Salah satu dampak dari kemudahan akses internet ini, kunjungan wisatawan ke Desa Jeruk Manis meningkat signifikan. Selama kurang lebih delapan bulan setelah program ini masuk, pelaku usaha di Desa Jeruk Manis langsung menggencarkan promosi. Hasilnya, wisatawan lokal bahkan mancanegara seperti eropa, jerman, dan sebagainya ramai berdatangan.
“Sangat, sangat (meningkat), karena kan sekarang itu tidak ada promosi manual. kan sekarang online semua. Dulu itu ya kalau kami ada yang menginap 2-3 orang aja itu sudah syukur. Tapi sekarang alhamdulillah walaupun lagi low season gitu, tapi ada aja tamu yang datang,” katanya.
Ia menyebut, perbandingan angka kunjungan wisatawan sebelum dan sesudah disentuh program kampung internet ini sangat jauh berbeda. Meski demikian, ia tidak bisa merincikannya secara jelas, namun ia memastikan terjadi peningkatan angka kunjungan wisatawan.
“Kalau peningkatannya sangat tinggi ya. Peningkatan sebelum ada dengan setelah ada (Program Kampung Internet),” ujarnya.
“Bule-bule yang berkunjung ke Desa Jeruk Manis, bahkan ada yang menginap hingga lima sampai enam hari,” tutupnya.
Kata Pelaku Usaha Penginapan

Rahma, salah satu pelaku usaha penginapan di Desa Jeruk Manis mengaku, kehadiran akses internet melalui Program Kampung Internet, membawa perubahan nyata bagi pelaku usaha wisata di desa.
Bukan hanya mempermudah komunikasi, internet kini menjadi penggerak promosi sekaligus mendongkrak kunjungan wisatawan.
“Sangat bermanfaat. Dulu susah, harus selalu menyediakan dana untuk beli data, kadang kurang juga. Sekarang bisa akses internet di mana saja,” ujarnya.
Menurutnya, kualitas jaringan yang tersedia cukup baik dan mulai dirasakan dampaknya terhadap peningkatan kunjungan wisata. Jika sebelumnya jumlah tamu hanya berkisar empat hingga lima orang per hari, kini kunjungan disebut meningkat signifikan dan kawasan wisata menjadi jauh lebih ramai.
“Sejak ada internet, kunjungan meningkat. Dulu hanya 4 sampai 5 orang sehari, sekarang sudah ramai sekali,” katanya.
Akses internet itu juga dimanfaatkan untuk promosi digital. Pelaku usaha kini aktif memperkenalkan destinasi dan produk lokal melalui Instagram, Facebook, hingga Google Maps, sesuatu yang sebelumnya sulit dilakukan karena keterbatasan sinyal.
“Promosi sekarang lewat Instagram, Facebook, dan Google Maps. Itu sangat membantu mendatangkan tamu,” ujarnya.
Ia menyebut, fasilitas internet dari Kemkomdigi mulai dirasakan beberapa bulan terakhir. Sebelumnya, jaringan di wilayah tersebut kerap tidak stabil. Bahkan saat memiliki paket data, akses internet belum tentu lancar.
“Dulu sinyal sering kurang, walaupun punya data belum tentu bisa kita pakai. Sekarang jauh lebih mudah kita akses,” tuturnya.
Meski ke depan layanan diarahkan agar bisa mandiri, ia mengaku siap melanjutkan dan menjaga keberlangsungan fasilitas tersebut.
Dengan meningkatnya konektivitas, pelaku usaha berharap geliat wisata desa terus tumbuh.
Mengenal Program Kampung Internet

Program Kampung Internet dirancang untuk mewujudkan visi digital Indonesia melalui tiga pilar utama, yakni terhubung, tumbuh, dan terjaga.
Staf Khusus Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi), Alfreno Kautsar Ramadhan menyampaikan, tagline terhubung, tumbuh, dan terjaga selasas dengan keinginan Kemkomdigi dalam memastikan seluruh masyarakat tersambung dengan akses yang merata.
“Setelah itu, mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis inovasi dan juga menjaga ruang digital yang aman,” kata Reno.
Program Kampung Internet ini, jelas dia, memberikan internet akses kepada desa-desa khususnya desa yang belum tersentuh akses internet. Titik poin penyebarannya mencakup, UMKM, rumah, dan juga fasilitas umum.
“Nah program Kampung Internet ini pertama bisa mengakomodir pilar kita yang terhubung karena kita bisa menyediakan konektivitas yang inklusif, berkualitas, dan terjangkau,” jelasnya.
Sepanjang tanun 2025 lalu, jelas dia, Kemkomdigi berhasil membuat 1.282 titik akses di 22 desa, 10 kabupaten, 15 kecamatan, dan 6 provinsi. Termasuk NTB, yaitu Desa Setanggor, Lombok Tengah dan Desa Jeruk Manis, Lombok Timur.
“Di program 2025 ini, kita mendukung rumah tangga, UMKM, serta fasilitas umum yang memang bisa mengakomodir transformasi digital. Jadi kita melihat bahwa digital adoption di Indonesia ini sudah sangat masif,” katanya.
Selain pembangunan infrastruktur, Komdigi juga menitikberatkan pada pemberdayaan sumber daya manusia (SDM) melalui pelatihan teknis serta penyerapan tenaga kerja lokal di sektor telekomunikasi.
Ia mencontohkan pelatihan kepada siswa SMK terkait perakitan jaringan fiber optik dan penanganan kendala teknis dasar. (*)



