Lombok Barat

Jembatan Darurat Ambruk, Warga Sekotong Timur Bertaruh Nyawa Lewat Batang Pohon Kelapa

Lombok Barat (NTBSatu) – Harapan warga Desa Sekotong Timur, Kabupaten Lombok Barat, untuk segera menikmati jembatan permanen kembali pupus. Jembatan darurat yang sebelumnya dibangun sebagai penghubung utama antarwilayah kini justru ambruk.

Hal tersebut memaksa warga kembali menggunakan batang pohon kelapa sebagai satu-satunya akses penyeberangan. ‎Kondisi ini memicu kekhawatiran serius, terutama bagi anak-anak sekolah dan para guru yang setiap hari harus melintasi jalur tersebut.

Kepala Desa Sekotong Timur, H. Marwan Hakim mengaku, telah melarang sebagian anak untuk melewati jembatan darurat karena terlalu berisiko. “Banyak anak sekolah yang takut lewat. Saya juga melarang, karena khawatir terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” ujarnya, Selasa, 14 April 2026.

Saat ini, warga hanya mengandalkan dua batang pohon kelapa seadanya sebagai pengganti jembatan. Akses tersebut jauh dari kata layak, bahkan membahayakan keselamatan. Namun, karena tidak ada alternatif lain, warga terpaksa tetap menggunakannya.

Ironisnya, jembatan tersebut merupakan satu-satunya jalur tercepat yang menghubungkan sejumlah dusun. Jika harus memutar, jaraknya jauh lebih panjang dan menyulitkan mobilitas, terutama bagi guru yang mengajar di wilayah seberang serta warga yang membutuhkan akses cepat ke layanan kesehatan.

“Kalau ada warga sakit di seberang, tidak bisa lewat. Ini yang paling kami khawatirkan,” kata Marwan.

Selain itu, distribusi kebutuhan dasar seperti makanan untuk program Makan Bergizi Gratis pun ikut terdampak. Keterlambatan distribusi kerap terjadi karena sulitnya akses penyeberangan, bahkan memicu keluhan warga.

Pemda Pernah Janjikan Jembatan Permanen

Di tengah kondisi tersebut, Pemerintah Daerah (Pemda) sebelumnya telah menjanjikan pembangunan jembatan permanen melalui skema anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT). Namun hingga kini, realisasi pembangunan masih belum terlihat.

Menurut Marwan, pihaknya telah berulang kali berkoordinasi dengan instansi terkait, termasuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas PUPRPKP. Namun, jawaban yang ia terima masih berkutat pada proses administrasi dan kelengkapan tender.

‎“Katanya masih menunggu kelengkapan tender. Padahal dulu dijanjikan April ini sudah mulai,” ungkapnya.

‎Merasa khawatir kondisi ini akan memakan korban, Marwan bahkan berencana menemui langsung Bupati Lombok Barat untuk meminta kepastian. Ia juga mengaku, terus menyuarakan kondisi tersebut melalui media sosial agar mendapat perhatian lebih cepat.

Warga kini hanya bisa berharap janji pembangunan segera terealisasi. Sebab, selama jembatan permanen belum dibangun, mereka harus terus bertaruh nyawa setiap kali menyeberang di atas batang kelapa. (Zani)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button