Tangan Berlumur Oli, Hati Memeluk Mimpi, Perjalanan Dr. Shutan Arie Shandi Menembus Batas Akademik
“Kalimat bapak sederhana, tapi sangat menyentuh hati saya: ‘Minimal ada anak bapak yang bisa sampai diploma.’ Itu mengubur keraguan saya,” Dr. Shutan Arie Shandi, S.Pd., M.Pd., C. MTr.
———————
Aroma oli bekas dan deru mesin motor yang digeber menjadi latar keseharian Shutan Arie Shandi di sebuah bengkel di Kota Bima. Dengan tangan yang sering kali menghitam oleh jelaga mesin, ia terbiasa memegang kunci pas dan membongkar karburator ketimbang membalik halaman buku. Baginya saat itu, mesin adalah hidupnya, dan pendidikan tinggi hanyalah bayangan samar di balik kepulan asap knalpot.
Lahir di tengah keluarga bersahaja, Shutan tumbuh besar di Desa Pesa, Kecamatan Wawo. Ayahnya adalah seorang guru sekolah dasar yang mendedikasikan hidupnya berpindah-pindah tugas dari pelosok ke pelosok demi mencerdaskan anak negeri. Meski hidup dalam keterbatasan ekonomi, sang ayah menanamkan benih nilai yang mendalam, bahwa pendidikan adalah satu-satunya warisan yang tak akan lekang oleh waktu.
Keinginan untuk kuliah sebenarnya pernah membuncah, namun realitas ekonomi sempat memadamkannya. Shutan masih mengingat jelas saat ayahnya berkata dengan suara rendah nan lembut, “Nak, bapak ini hanya tamatan SPG. Minimal ada anak bapak yang bisa sampai diploma.” Kalimat itu menjadi beban sekaligus percikan api yang terus terjaga di sudut hati Shutan, bahkan ketika ia harus bekerja keras di bawah kolong kendaraan.
Titik balik itu datang secara tak terduga pada suatu siang yang panas. Shutan tengah beristirahat di bengkel saat melihat teman-temannya melintas membawa map berisi berkas pendaftaran kuliah. Secara spontan, ia berceletuk ingin ikut mendaftar, meski saku celananya saat itu kosong. Keajaiban hadir melalui sosok sahabat bernama Bang Yadam, yang tanpa banyak tanya menyodorkan kartu ATM-nya dan berkata, “Ambil saja sesuai kebutuhanmu.”
Pintu yang terbuka itu membawa Shutan ke Universitas Terbuka pada 2005 untuk mengambil Diploma II Pendidikan Olahraga. Masa-masa itu adalah ujian fisik dan mental. Ia harus membagi waktu antara bangsal bengkel dan meja kuliah. Jemari yang kaku karena terbiasa menggenggam kunci mesin perlahan dipaksa untuk lincah menekan keyboard komputer, di bawah bimbingan sabar mentornya, Fahri Surahman.
Dahaga akan ilmu membawanya berlabuh di STKIP Taman Siswa Bima untuk melanjutkan studi S1. Di bawah bayang-bayang rumor akreditasi kampus yang sempat meragukan, Shutan memilih percaya pada proses. Ia terpesona oleh wibawa para pendidik di sana, seperti drh. H. Makmun, yang cara berpakaian dan kedalaman ilmunya memberikan Shutan prototipe baru tentang sosok yang ia cita-citakan.
Lulus sebagai Sarjana Pendidikan pada 2011 bukanlah akhir. Sebuah perjumpaan di sore hari saat ia sedang mengerjakan revisi menggunakan notebook sederhana mengubah segalanya. Seorang dosen yang ia kagumi melihat potensi dalam diri Shutan yang selama ini tersembunyi. Dari seorang mekanik, ia bertransfomasi menjadi asisten dosen, lalu mendapatkan beasiswa magister dari yayasan melalui rekomendasi Dr. H. Ibnu Khaldun Sudirman.
Kini, gelar doktor telah tersemat di depan namanya. Dr. Shutan Arie Shandi, S.Pd., M.Pd., C. MTr., telah menempuh perjalanan ribuan kilometer dari sebuah bengkel di Bima menuju puncak tertinggi dunia akademik. Namun, ia tidak pernah lupa pada jemarinya yang pernah berlumur oli. Baginya, kampus lokal bukan penghalang untuk memiliki mimpi global.
Shutan kini berdiri tegak, bukan lagi menghadap mesin tua yang rusak. Melainkan menghadap mahasiswa-mahasiswanya, membagikan sebuah pelajaran penting yang tak tertulis di buku teks mana pun. Bahwa kualitas seseorang tidak ditentukan oleh di mana ia mulai melangkah, melainkan oleh kekuatan semangat dalam setiap langkah tersebut. (*)



