Ekonomi Kreatif Musim Haji, Sawah Disulap Jadi Deretan Tenda dan Kamar
Mataram (NTBSatu) – Musim keberangkatan Haji di Nusa Tenggara Barat (NTB), membawa berkah tersendiri bagi warga di sekitar Asrama Haji. Pengelola lahan, Asma mengungkapkan, lahan sawah yang biasanya ia tanami padi sengaja diubah fungsinya.
Saat memasuki bulan-bulan musim Haji seperti saat ini, ia menyulapnya menjadi tempat penginapan. Fenomena ini menjadi solusi bagi para keluarga jemaah yang ingin tetap dekat dengan kerabat mereka sebelum terbang ke tanah suci.
Penginapan darurat ini menawarkan tempat tinggal sementara, berupa tenda untuk para pengantar jemaah Haji. Ia mematok tarif yang sangat relatif murah, karena satu tenda isinya bisa puluhan orang.
“Sehari itu saya kenakan Rp400 ribu, bebas diisi berapa orang saja, asalkan masih muat,” ucap Asma, pada Rabu, 29 April 2026.
Asma mengaku, lahan sawah tersebut milik orang lain yang ia jaga. Ia melakukan alih fungsi setelah mendapat izin dari pemilik.
“Ini punya orang Dompu. Kalau hari-hari biasa ditanami padi. Tetapi khusus bulan orang berangkat Haji, lahannya diubah jadi seperti ini (penginapan). Memang biasanya saya yang jaga, jadi saya juga sudah minta izin,” jelasnya.
Tradisi yang Terus Bertahan
Praktik penginapan musiman ini bukan sekadar tren baru. Asma menyebutkan, bisnis ini telah berlangsung selama lebih dari 20 tahun.
Meski lokasi sempat berpindah-pindah karena kendala teknis atau kebutuhan pembangunan, layanan ini tetap masyarakat cari. “Ini berjalan sudah lama, mungkin dua puluh tahunan,” ucapnya.
Harga penginapan belum termasuk fasilitas lainnya, seperti toilet. Asma mengungkap, ia menarik tarif yang terpisah untuk hal tersebut.
“Ini toiletnya dibayar terpisah. Tarifnya tiga ribu rupiah, tetapi banyak juga yang nawar jadi dua ribu,” ucapnya.
Selain itu, Asma juga mengatakan, ia menyediakan tenda terpisah untuk beribadah agar memudahkan pengunjung. “Di sini kami siapkan tenda untuk musala, tidak kami pungut biaya,” ujarnya.
Dari aspek kebersihan, Asma selalu memastikan sendiri kebersihan sekitar area penginapan, terlebih masalah sampah. “Sampahnya kami pungut sendiri, kemudian dibakar langsung agar orang tetap nyaman. Kalau dari petugas kebersihan, tidak pernah datang ke belakang sini, karena mereka fokus ke pedagang di depan,” imbuhnya. (Ashri)



