Kota Mataram

Prihatin Bencana Musiman, Sekolah Pesisi Juang Ampenan Temukan Alat Deteksi Banjir Rob

Mataram (NTBSatu) – Inovasi teknologi kembali lahir dari kawasan pesisir. Sekolah Pesisi Juang di Ampenan, Kota Mataram, mengembangkan alat pendeteksi banjir rob berbasis data real-time dan mengklaimnya sebagai yang pertama di Indonesia.

Inisiator program tersebut, Jauhari Tantowi menjelaskan, timnya kini mengembangkan alat tersebut secara intensif dan menjadikannya fokus utama agar masyarakat segera memanfaatkannya.

Hal ini berangkat dari keprihatinan Jauhari soal banjir rob yg terus berulang terjadi di Ampenan. Terakhir pada 21 Januari 2026, banjir rob menjadi kejadian paling besar dalam sejarah.

“Sekarang ini kami lagi menjalankan alat pendeteksi banjir rob. Ini menjadi prioritas nasional dan target kami tahun ini bisa masuk ke tahap industri serta digunakan oleh masyarakat,” ujarnya, Selasa, 28 April 2026.

Selama ini, pengembang teknologi lebih banyak memfokuskan sistem peringatan dini pesisir pada potensi tsunami. Padahal, banjir rob sering terjadi dan belum memiliki teknologi deteksi dini yang spesifik.

Sekolah Pesisi Juang merancang alat ini dengan pendekatan berbeda. Jika sistem tsunami membaca titik pasang terendah, alat ini memantau pasang tertinggi air laut yang berpotensi memicu banjir rob.

Teknologi tersebut bekerja secara real-time dengan mengumpulkan data cuaca dan ketinggian permukaan air. Sistem kemudian mengirimkan data itu ke stasiun darat, yang mengolahnya menjadi informasi mitigasi yang mudah dipahami masyarakat.

“Alat seperti ini belum ada sebelumnya. Dengan informasi langsung, masyarakat bisa lebih siap menghadapi banjir,” kata Jauhari.

Usulkan Hak Paten

Saat ini, tim pengembang juga mengajukan inovasi tersebut untuk mendapatkan hak paten. Mereka menargetkan penggunaan alat ini di berbagai kawasan pesisir Indonesia, termasuk wilayah rawan seperti Pantai Utara Jawa.

Di sisi lain, Jauhari mengungkapkan visi jangka panjangnya untuk membangun universitas berbasis teknologi pesisir yang berfokus pada riset dan pengembangan sumber daya manusia.

“Saya ingin menghadirkan universitas yang khusus mengembangkan teknologi pesisir sekaligus mencetak SDM unggul di bidang tersebut,” katanya.

Selama enam tahun berjalan, Sekolah Pesisi Juang telah menjadi wadah pembelajaran alternatif bagi anak-anak pesisir. Lembaga ini mendorong mereka mengembangkan keterampilan hingga meraih peluang pendidikan ke luar negeri.

“Dulu anak pesisir sering dipandang sebelah mata. Sekarang mereka mulai menunjukkan bahwa mereka mampu bersaing,” tambahnya.

BRIN Beri Dukungan

Sementara itu, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memberikan respons positif terhadap pengembangan ini. Peneliti BRIN, Dr. Arif Hilmawan menilai, inovasi tersebut memiliki potensi besar dalam mendukung mitigasi bencana pesisir.

“Risiko bencana di wilayah seperti Ampenan memang tidak bisa diabaikan. Kehadiran alat seperti ini sangat dibutuhkan, dan kami melihat potensinya cukup besar,” ujarnya.

Arif menambahkan, BRIN kini mempelajari dokumen teknis alat tersebut untuk menentukan bentuk dukungan yang tepat, terutama dalam penguatan teknologi sensor.

Menurutnya, sensor menjadi komponen penting sekaligus berbiaya tinggi dalam sistem ini. Harga satu unit sensor berkisar Rp5 juta hingga Rp10 juta, tergantung spesifikasi dan negara asal. Namun, sensor tersebut mampu bertahan hingga 10 sampai 20 tahun.

Selain itu, sistem alat ini terhubung dengan stasiun darat yang menerima dan mengolah data menjadi grafik informasi yang mudah dipahami pengguna.

“Bukan hanya teknologinya yang menarik, tetapi juga pendekatan sosialnya. Mereka menggabungkan edukasi dan pemberdayaan masyarakat yang berdampak langsung pada mitigasi bencana,” jelasnya.

Ia menambahkan, BRIN juga akan membuka peluang kolaborasi yang lebih luas, termasuk dengan lembaga riset internasional. (*)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button