BGN Temukan Praktik “Ternak Yayasan” dalam Program MBG
Jakarta (NTBSatu) – Badan Gizi Nasional (BGN) mengakui, adanya sejumlah pihak yang memanfaatkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk kepentingan keuntungan semata. Bahkan, terdapat pihak yang mengelola banyak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sekaligus dengan orientasi bisnis.
Wakil Kepala Badan Gizi Nasional Bidang Komunikasi dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang mengungkapkan, pihaknya menemukan fenomena “ternak yayasan”. Dalam praktik tersebut, oknum pengusaha sengaja mendirikan banyak yayasan agar dapat mengelola lebih dari satu dapur MBG.
Pada tahap awal pelaksanaan program, pemerintah membuka peluang kemitraan bagi lembaga yang ingin terlibat dalam penyediaan layanan dapur MBG. Kemitraan tersebut yang prioritas bagi yayasan di bidang pendidikan, sosial, dan keagamaan.
“Di awal, mau tidak mau, mitra itu dalam bentuk CV atau PT. Tetapi, harus dalam bentuk yayasan. Yayasan pun itu ada syaratnya; harus yayasan pendidikan, sosial, keagamaan,” kata Nanik dalam keterangannya mengutip detik.com, Senin, 9 Maret 2026
Namun dalam perkembangannya, Nanik mengakui sejumlah pihak memanfaatkan peluang tersebut dengan mendirikan yayasan semata-mata untuk mengelola dapur MBG. Bahkan, ada pihak yang mengelola beberapa dapur sekaligus dengan orientasi bisnis.
Menurutnya, kondisi tersebut juga akibat tingginya target pelaksanaan program gagasan Presiden Prabowo Subianto, sehingga membuka peluang bagi pihak tertentu untuk mendirikan banyak yayasan.
“Tetapi begitu Pak Presiden juga karena enggak enak selalu di jalan, ‘Pak, kapan MBG? Kapan MBG?’. Akhirnya target sangat tinggi sekali, muncullah ‘ternak-ternak yayasan’. Banyak orang memiliki lebih dari satu dapur,” ujarnya.
Nanik menilai, kondisi tersebut berpotensi menimbulkan kecemburuan serta menyimpang dari semangat awal program. Dalam beberapa kasus, pengelolaan dapur lebih berorientasi pada keuntungan sehingga kurang memperhatikan aspek fasilitas dan standar operasional.
“Secara kepemilikan, dapur ini membuat orang iri karena munculnya bukan oleh yayasan sosial, pendidikan, atau keagamaan. Yang muncul adalah pengusaha-pengusaha berkedok yayasan karena orientasinya bisnis tadi. Makanya, kamar pun enggak dipikirin, diminta AC susah, kalau peralatan rusak enggak mau ganti karena hitung-hitungannya bisnis,” jelasnya.
Evaluasi Seluruh Mitra
BGN menegaskan, akan terus melakukan evaluasi terhadap seluruh mitra penyelenggara program MBG. Nanik menjelaskan, kontrak kerja sama dengan para mitra pada dasarnya hanya berlaku satu tahun dan dapat diperpanjang berdasarkan hasil evaluasi.
“Mereka lupa, mereka hanya kontrak satu tahun yang bisa diperpanjang. Artinya, sewaktu-waktu kita bisa sudahi kerja sama dengan mereka. Kita akan luruskan lagi ke khitahnya MBG bukan bisnis, tetapi MBG adalah program kemanusiaan, investasi sosial. Kalau ada yang otaknya cuma mikir duit, nanti kita hapus,” tegasnya.
Ia menambahkan, BGN akan terus melakukan evaluasi secara berkala untuk memastikan pelaksanaan program tetap berjalan sesuai tujuan awalnya. Selain itu, Nanik juga mengingatkan para kepala SPPG agar menjalankan program sesuai pedoman teknis dan standar operasional yang telah ditetapkan.
“Tetapi kalian sebagai kepala SPPG berjalanlah di koridor yang benar. Jalankan juknis, jalankan SOP,” tambahnya. (*)



