Kota Mataram

Lingkungan Sintung, Kampung Nelayan Kreatif yang Jarang Tersorot di Mataram

Mataram (NTBSatu) – Di balik hiruk pikuk perkembangan Kota Mataram, terdapat sebuah kampung nelayan yang jarang diketahui publik.

Kampung tersebut berada di Lingkungan Sintung, Kelurahan Banjar, Kecamatan Ampenan, yang selama ini dikenal sebagai salah satu kantong nelayan di wilayah barat kota.

Kepala Lingkungan Sintung, Imam Jafar menjelaskan, kawasan tersebut berada di zona tengah Kota Mataram dan berdekatan langsung dengan aliran Kali Jangkok dan Pantai Ampenan. Letak geografis ini membuat sebagian besar warga menggantungkan hidup dari laut.

“Kalau dilihat dari status pekerjaan, sekitar 35 persen warga di sini berprofesi sebagai nelayan. Terutama yang tinggal di wilayah pinggir kali seperti RT 1, RT 5, dan sebagian RT 6,” ujar Imam Jafar kepada NTBSatu, Kamis, 5 Maret 2026. 

IKLAN

Selain nelayan, sebagian warga lainnya bekerja sebagai buruh harian lepas. Dari sisi ekonomi, mayoritas masyarakat berada pada kategori menengah ke bawah.

Meski demikian, para nelayan di Sintung memiliki cara tersendiri untuk bertahan secara ekonomi. Mereka tidak hanya mengandalkan hasil tangkapan ikan saat melaut.

Menurut Imam Jafar, banyak nelayan kini mengembangkan usaha tambahan dengan menyediakan layanan trip memancing di laut bagi masyarakat umum.

“Sekarang banyak nelayan yang punya channel sendiri. Jadi selain melaut, mereka juga bawa tamu untuk trip memancing. Biasanya minimal seminggu dua kali, terutama saat hari libur,” jelasnya.

Trip tersebut umumnya dilakukan di perairan sekitar wilayah utara, tengah, hingga selatan pesisir Mataram tanpa harus pergi terlalu jauh ke pulau-pulau kecil.

Dalam satu kali perjalanan, nelayan biasanya mematok biaya sekitar Rp600 ribu hingga Rp700 ribu untuk satu perahu.

“Dari situ sudah termasuk biaya bahan bakar. Paling tidak nelayan bisa dapat sekitar Rp300 ribu bersih. Lumayan untuk menambah penghasilan,” katanya.

Ia menilai, pola tersebut cukup membantu ekonomi keluarga nelayan, karena memberikan pemasukan rutin meskipun hasil tangkapan ikan tidak selalu banyak.

Peran Perempuan untuk Menopang Ekonomi

Tidak hanya para nelayan, peran perempuan di kampung ini juga cukup penting dalam menopang ekonomi keluarga.

Istri nelayan kini banyak yang ikut berdagang ikan. Jika suami tidak melaut atau hasil tangkapan tidak banyak, mereka membeli ikan dari pasar untuk dijual kembali di lingkungan sekitar.

“Sekarang banyak istri nelayan yang jual ikan keliling kampung atau ke perumahan. Jadi tidak hanya bergantung pada suami,” ujarnya.

Ikan yang dijual biasanya diambil dari pasar di wilayah utara Kota Mataram sebelum kemudian dipasarkan kembali ke warga.

Imam Jafar menyebut, perubahan pola ekonomi ini membuat kehidupan masyarakat nelayan di Sintung perlahan mulai membaik dibandingkan beberapa tahun lalu.

“Sekarang nelayan sudah mulai berpikir lebih jauh tentang ekonomi keluarga. Tidak hanya mengandalkan satu sumber penghasilan,” katanya.

Mengembangkan Ekonomi Berbasis Laut

Selain aktivitas ekonomi berbasis laut, masyarakat Sintung juga pernah mencoba mengembangkan berbagai inisiatif kreatif untuk menghidupkan kawasan tersebut.

Salah satunya dengan membangun kedai terapung di pinggir kali yang diharapkan menjadi tempat wisata kuliner sekaligus ruang berkumpul masyarakat.

Namun inisiatif tersebut tidak bertahan lama karena terkendala infrastruktur jalan yang belum memadai.

“Kedai terapung itu dulu sempat ada, tapi pelan-pelan akhirnya berhenti karena akses jalannya kurang mendukung,” ujarnya.

Ke depan, masyarakat Sintung memiliki harapan besar untuk menata kawasan pinggir kali agar bisa berkembang menjadi destinasi wisata berbasis kampung nelayan.

Konsep yang dibayangkan antara lain menghadirkan warung-warung kuliner di sepanjang tepian sungai yang terhubung dengan kawasan Muara Jangkok hingga pantai.

“Harapan kami kawasan ini bisa ditata, mungkin nanti ada wisata terpadu, warung-warung kuliner seperti kedai terapung dulu tapi dengan penataan yang lebih baik,” kata Imam.

Ia berharap pemerintah kota dapat memberi perhatian lebih terhadap potensi kampung nelayan seperti Sintung, terutama dari sisi penataan kawasan dan pembangunan infrastruktur pendukung.

“Yang penting pemerintah kota mau memperhatikan kami juga. Kampung ini juga punya potensi untuk berkembang,” tutupnya. (Zani)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button