Ekonomi NTB Tumbuh Mahal di Atas Struktur yang Rapuh
Pertambangan: Pedang Bermata Dua
Ketergantungan NTB pada sektor pertambangan dan industri berbasis ekspor konsentrat juga menjadi faktor kunci yang membentuk volatilitas ekonomi daerah. Sektor ini berperan sebagai pendorong utama pertumbuhan saat produksi dan ekspor meningkat, tetapi sekaligus menjadi sumber tekanan ketika terjadi perlambatan produksi atau penyesuaian kebijakan.
“Pertambangan adalah pedang bermata dua bagi NTB, Ketika kinerjanya tinggi, pertumbuhan melonjak. Tetapi saat melambat, tidak banyak sektor lain yang cukup kuat untuk menjadi penyangga,”ungkapnya.
Menurut Iwan, meski narasi pergeseran ke sektor pertanian dan ekonomi produktif lainnya kerap disampaikan, implementasinya dinilai belum konsisten.
“Pertanian hingga kini masih lebih berperan sebagai penyangga sosial, bukan sebagai sumber pertumbuhan bernilai tambah tinggi. Kondisi ini membuat struktur ekonomi NTB tetap rentan dan fluktuatif,” ujarnya.
Secara data dan paradigma pembangunan, ekonomi NTB 2025 memberi pesan yang jelas. Tantangannya bukan semata kekurangan investasi, melainkan rendahnya efisiensi, lemahnya diversifikasi sektor, serta keterbatasan kebijakan lokal dalam mengonversi modal besar menjadi pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
Dengan titik awal pertumbuhan yang rendah, target RPJMD 2026 sebesar 6,83 persen menjadi semakin berat.
“Tanpa koreksi arah kebijakan yang lebih menekankan efisiensi modal, penguatan sektor produktif berbasis lokal, serta keterhubungan antara investasi besar dan ekonomi rakyat, pertumbuhan ekonomi NTB berisiko terus berjalan di bawah potensinya sendiri,” tambah Iwan. (*)



