Ekonomi NTB Tumbuh Mahal di Atas Struktur yang Rapuh
Modal dan Output Tak Sejalan
Salah satu indikator yang memperjelas kondisi tersebut adalah Incremental Capital Output Ratio (ICOR). Secara sederhana, ICOR menunjukkan berapa besar tambahan investasi yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu unit pertumbuhan ekonomi. Semakin tinggi ICOR, semakin tidak efisien suatu perekonomian.
Secara nasional, ICOR Indonesia berada di kisaran 6–7. Artinya, setiap kenaikan pertumbuhan ekonomi membutuhkan tambahan modal sekitar enam hingga tujuh kali lipat. Di NTB, berdasarkan estimasi 2025, angka ICOR justru mendekati 9,5. “Ini angka yang sangat tinggi.
“Artinya, ekonomi NTB tumbuh dengan biaya yang mahal. Dengan investasi besar yang masuk, pertumbuhan yang dihasilkan secara kumulatif justru relatif kecil,” papar Iwan.
Tingginya ICOR NTB tidak muncul secara tiba-tiba. Ia mencerminkan struktur ekonomi yang masih sangat bergantung pada sektor padat modal, terutama pertambangan dan industri pengolahan berbasis smelter.
Investasi di sektor ini memang besar, tetapi memiliki masa tunggu (gestation period) yang panjang sebelum menghasilkan output ekonomi yang stabil. “Sebagian besar investasi yang masuk masih berupa pembangunan fisik. Nilai tambahnya baru terasa di akhir tahun, bahkan sebagian baru akan optimal pada 2026,” jelas Iwan.
Akibatnya, dalam satu tahun kalender, investasi tampak besar di sisi input, tetapi kontribusinya terhadap pertumbuhan output masih terbatas. Pola ini membuat pertumbuhan ekonomi NTB terlihat rapuh dan fluktuatif, sangat bergantung pada momentum produksi di satu sektor utama.



