Ekonomi BisnisHEADLINE NEWS

Pemprov NTB Pangkas Sejumlah Lini Bisnis PT GNE hingga Rombak Total Jajaran Kepengurusan

Mataram (NTBSatu) – PT Gerbang NTB Emas (GNE) dalam keadaan tidak sehat. Baik dari sisi pengelolaan keuangan maupun manajerial kepengurusan.

Dalam beberapa tahun terakhir, PT GNE belum menyumbang deviden atau berkontribusi terhadap pendapatan daerah. Termasuk masih meninggalkan utang yang cukup besar.

Kondisi ini membuat sejumlah elemen mendesak perusahaan plat merah ini dibubarkan. Namun, Pemprov NTB ngotot ingin mempertahankannya. Alasannya, karena masih punya potensi untuk dilakukan perbaikan.

“PT GNE sudah punya road map (peta jalan, red) untuk penyehatan ke depannya,” kata Penjabat (Pj.) Sekretaris Daerah (Sekda) NTB, Lalu Moh. Faozal, Senin, 10 November 2025.

Dengan kondisi sekarang, kata Faozal, Pemprov NTB berencana merombak total jajaran kepengurusan PT GNE, serta memangkas sejumlah lini bisnisnya. Ke depan, fokus bisnis PT GNE, salah satunya bisnis paving block.

“Dirombak total direksi dan komisarisnya? Pasti kok kalau sudah RUPS, orang dia (PT GNE) sakit kok,” ujarnya.

Penyertaan Modal Rp8 Miliar

Sebagai informasi, Pemprov NTB memberikan suntikan dana atau penyertaan modal sebesar Rp8 miliar kepada PT Gerbang NTB Emas (GNE).

Penyertaan modal miliaran rupiah ini disebutkan untuk membantu memulihkan masalah keuangan yang sedang dialami perusahan berplat merah ini. Termasuk untuk membayar tunggakan pajak.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Biro Perekonomian Setda NTB sebelumnya, Muslim menyebutkan, penyertaan modal Rp8 miliar itu rinciannya untuk bayar pajak tertunda sebesar Rp5 miliar. Serta, sisanya Rp3 miliar untuk memperkuat modal usaha mereka.

“Saat ini PT GNE tidak bisa melaksanakan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), karena sudah diblok oleh Dirjen AHU karena pembayaran pajak tertunda sekian tahun,” kata Muslim, Senin, 8 September 2025.

Penyertaan modal terhadap PT GNE, ujar Muslim, tentu sudah berdasarkan pertimbangan pimpinan dengan mengakomodir saran dan masukan dari pakar, akademisi, dalam merancang program ke depan.

“Ini juga sebagai alternatif jangka pendek menyelamatkan PT GNE. Ada langkah-langkah yang sifatnya untuk memperkuat keberlanjutan dari BUMD kita ke depan,” ujarnya.

Perusahaan tersebut mengelola 10 lini bisnis. Di antaranya ada 6 sektor yakni Manufaktur, Perdagum, Konstruksi, Properti, Agribisnis, dan Tenaga Kerja. Lalu, menjalankan usaha Olahan kayu, Spandek dan baja ringan, Sistem Penyedia Air Minum (SPAM) dan Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTBm).

Utang PT GNE

Adapun PT GNE masih memiliki utang bank dan lembaga pembiayaan sebesar Rp26,7 miliar. Kemudian, tunggakan pajak tahun 2016–2017 Rp3,13 miliar. Selanjutnya, utang pajak tahun 2020 sebesar Rp2,87 miliar. Serta, masih memiliki cicilan pinjaman ke bank sebesar Rp300 juta per bulan

Kemudian, piutang usaha pihak ketiga Rp8,95 miliar. Piutang lain-lain Rp11,86 miliar (belum tertagih). Serta, defisit arus kas dan penurunan aset lancar secara signifikan.

Di samping melakukan pembenahan dari sisi pengelolaan keuangan, Pemprov NTB juga akan memperkuat strukturisasi terhadap kelembagaan agar lebih efektif. Termausk dari sisi SDM. (*)

Muhammad Yamin

Jurnalis NTBSatu

Berita Terkait

Back to top button