BERITA NASIONAL

Tarif 0 Persen AS Masuk RI, Benarkah Harga iPhone akan Turun Drastis?

Mataram (NTBSatu) – Pemerintah Indonesia resmi memberikan tarif bea masuk 0 persen untuk sejumlah produk asal Amerika Serikat (AS) sebagai hasil kesepakatan dagang dengan Presiden AS Donald Trump. Namun, benarkah kebijakan ini akan membuat harga iPhone di Indonesia ikut anjlok?

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira Adhinegara menegaskan, iPhone tidak akan terdampak oleh kebijakan tarif 0 persen tersebut. Meski Apple merupakan perusahaan AS, Bhima menyoroti bahwa sebagian besar iPhone justru diproduksi di China.

“Penghapusan tarif hanya berlaku bagi produk-produk yang pembuatannya langsung di AS. Sementara iPhone secara fisik berasal dari pabrik di China. Sehingga tidak termasuk dalam skema bebas tarif ini,” jelas Bhima, mengutip Kompas.com, Minggu, 20 Juli 2025.

Bhima juga menyebut, sebagian besar produk teknologi dari perusahaan AS yang masuk ke Indonesia sebenarnya berlabel “Made in China”. Sehingga tetap ada tarif bea masuk seperti biasa.

Menurut Bhima, tarif 0 persen lebih banyak berdampak pada komoditas utama AS yang diekspor ke Indonesia, bukan produk elektronik konsumen seperti iPhone, laptop, atau printer.

IKLAN

Ia merinci, sejumlah produk yang akan terkena dampak positif dari tarif 0 persen seperti suku cadang dan mesin industri, plastik dan obat-obatan farmasi. Kemudian, energi seperti BBM, LNG, dan elpiji, produk pertanian seperti kedelai, gandum, dan jagung.

Selain itu, perangkat elektronik yang berpotensi turun harga bukan gadget, melainkan peralatan seperti perekam suara, televisi, dan mesin kelistrikan.

“Produk-produk tersebut yang kemungkinan besar akan mengalami penurunan harga. Namun barang elektronik yang biasa masyarakat konsumsi, seperti handphone, tetap tidak akan berubah karena tarif impor dari China tetap berlaku,” tambah Bhima.

Sektor Pertanian dan Peternakan Terancam

Kebijakan tarif 0 persen ini juga berisiko besar terhadap ketahanan sektor pertanian dan peternakan nasional. Bhima menyoroti, pasar lokal bisa dibanjiri produk AS, sehingga memukul keras produsen dalam negeri.

Sebagai contoh, produk susu dan olahannya prediksinya akan kalah bersaing karena harga produk AS jauh lebih rendah. Bahkan, potensi lenyapnya produk susu lokal dari pasar tidak bisa terhindar.

IKLAN

“Padahal sebelum kebijakan ini, Indonesia sudah menjadi pasar ekspor nomor tujuh untuk dairy product dari Amerika,” ungkap Bhima.

Nasib serupa juga mengancam petani jagung dan kedelai. Harga jagung lokal bisa anjlok karena serbuan jagung AS.

Sementara itu, ketergantungan terhadap kedelai impor yang sudah mencapai 80 persen berpotensi makin meningkat.

“Konsumen memang akan menikmati harga lebih murah, tapi petani kedelai dan jagung bisa terjepit hebat,” jelasnya.

Kebijakan pembebasan tarif ini merupakan bagian dari kesepakatan Indonesia dengan AS untuk menurunkan tarif resiprokal dari 32 persen menjadi 19 persen. Meski di satu sisi dapat memperlancar perdagangan bilateral, Bhima memperingatkan bahwa kebijakan ini dapat membuat produsen lokal semakin sulit bersaing. (*)

Berita Terkait

Back to top button