Mataram (NTBSatu) β Untuk mengurangi risiko banjir dan longsor yang kerap terjadi setiap musim hujan, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) NTB bersama berbagai pihak meluncurkan Gerakan Satu Desa Satu Demplot Agroforestry di Pulau Sumbawa.
Direktur Penanganan Konflik Tenurial dan Hutan Adat Direktur Jenderal Perhutanan Sosial Kementerian Kehutanan, Julmansyah, yang sebelumnya menjabat Kadis LHK NTB mengatakan, inisiatif ini bertujuan memulihkan lahan kritis dan meningkatkan daya serap tanah terhadap air hujan. Sehingga dapat menekan potensi bencana hidrometeorologi.
“Langkah ini kita ambil menyusul kejadian banjir di sedikitnya 15 titik daerah aliran sungai (DAS) dan sub-DAS NTB pada Desember 2024 dan Januari 2025,” jelasnya.
Dengan menerapkan sistem agroforestry, harapannya, tata kelola lahan di wilayah rawan banjir lebih lestari dan berkelanjutan.
Julmansyah menegaskan, konsep agroforestry merupakan langkah konkret dalam mengurangi dampak buruk alih fungsi lahan yang selama ini didominasi oleh pertanian monokultur, seperti jagung.
βDengan pola agroforestry, tanah memiliki tutupan vegetasi yang lebih beragam dan mampu menahan air lebih lama. Ini akan mengurangi limpasan air hujan (runoff) yang sering menjadi pemicu banjir dan longsor,β jelasnya.
Program ini pun mendapat dukungan penuh dari 27 desa di Sumbawa yang siap mengembangkan demplot agroforestry seluas masing-masing 1 hektare. Lokasi demplot tersebar di tiga balai Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH).
KPH Ampang Plampang dengan cakupan 15 desa sebanyak 2.700 bibit. Lalu KPH Batulanteh, 8 desa, mendapat 1.300 bibit. Serta, KPH Brang Beh, 4 desa dengan 1.000 bibit.
Total, terdapat 27 hektare lahan agroforestry dengan sekitar 5.000 bibit tanaman yang ditanam.
Adapun jenis tanaman mencakup pohon produktif seperti avokad, petai, kelengkeng, nangka, mangga, dan durian.
Selain memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat, pohon-pohon ini juga memiliki sistem perakaran kuat yang efektif menahan erosi tanah.
Meningkatkan Ketahanan Ekologi dan Masyarakat
Julmansyah turut menekankan pentingnya pergeseran dari sistem pertanian monokultur ke agroforestry, yang lebih berkelanjutan.
βLewat wanatani atau kebun campur, masyarakat tidak hanya mendapatkan hasil panen yang lebih beragam. Tetapi juga membantu menjaga keseimbangan lingkungan dan mengurangi risiko bencana,β tambahnya.
Agroforestry juga berpotensi mencegah sedimentasi sungai dan meningkatkan peluang munculnya sumber mata air baru. Di mana sangat penting bagi ketahanan air di daerah-daerah rawan kekeringan.
Semakin luasnya penerapan konsep agroforestry melalui gerakan ini, ia berharap risiko banjir dan longsor di NTB, khususnya Sumbawa, dapat berkurang secara signifikan.
“Pemulihan ekosistem melalui pola tanam yang ramah lingkungan menjadi solusi jangka panjang dalam menghadapi dampak perubahan iklim dan degradasi lahan,” pungkas Julmansyah. (*)