Politik

Komisi X DPR RI Soroti Minimnya Konten Sains di Media Massa

Mataram (NTBSatu)Komisi X DPR RI menyoroti, minimnya konten yang membahas tentang sains dan hasil penelitian ilmiah di media massa.

Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian Irfani menilai, media massa saat ini masih kekurangan konten ilmiah populer berkualitas. Ia menilai, ruang pemberitaan lebih banyak isu politik sensasional, gosip selebritas, dan kriminalitas.

“Bukan karena masyarakat tidak suka sains, tetapi karena media tidak menyajikan sains dengan cara yang menarik,” kata Lalu Hardian, dalam acara workshop Teknik Menulis Berita Ilmiah Populer oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Komisi X DPR RI di Lombok Garden, Kota Mataram, Sabtu, 16 Mei 2026.

IKLAN

Karena itu, ia mendorong para jurnalis untuk mulai membangun jaringan dengan peneliti di perguruan tinggi negeri maupun swasta di NTB.

“Kolaborasi media dan akademisi penting agar hasil riset dapat memberi dampak nyata bagi masyarakat,” ujarnya.

Menurutnya, banyak hasil penelitian penting yang akhirnya hanya menjadi dokumen di perpustakaan tanpa pernah tersampaikan kepada publik. Ia menyebutnya fenomena itu sebagai lost knowledge atau pengetahuan yang hilang karena gagal dikomunikasikan.

IKLAN

Ia menilai, rendahnya komunikasi ilmiah menjadi salah satu penyebab rendahnya tingkat literasi masyarakat Indonesia. Hal ini berdasarkan skor Programme for International Student Assessment (PISA) Indonesia yang masih berada di peringkat bawah dunia.

“Ini menjadi pekerjaan rumah bersama, tidak hanya BRIN dan Komisi X DPR RI, tetapi juga teman-teman media,” ucapnya.

Politisi PKB ini menegaskan, yang masyarakat butuhkan bukan sekadar jurnal akademik penuh istilah teknis atau siaran pers biasa, melainkan tulisan yang mampu mengemas fakta ilmiah rumit menjadi cerita ringan, menarik, namun tetap akurat.

Ia mencontohkan, berbagai hasil riset di Indonesia yang sebenarnya memiliki dampak besar bagi masyarakat. Misalnya, penelitian tentang daun sirsak untuk terapi kanker, penemuan cacing laut di Papua, hingga inovasi pangan lokal dan teknologi kebencanaan. Namun, hasil penelitian tersebut jarang dikenal publik karena tidak disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami.

“Bukan karena penelitiannya tidak bagus, tetapi karena tidak ada yang menuliskannya dalam bahasa yang mereka pahami,” bebernya.

Usulkan Peningkatan Anggaran Riset

Ia menyebut, insan media sebagai “penerjemah peradaban” karena memiliki tugas menerjemahkan bahasa statistik dan metodologi penelitian menjadi cerita yang mencerahkan masyarakat.

Ia juga mengungkapkan, Komisi X DPR RI telah mengusulkan peningkatan anggaran BRIN pada 2026 dan 2027. Termasuk, mendorong pemberian insentif bagi peneliti yang berhasil mempublikasikan hasil risetnya melalui media massa dalam bentuk berita ilmiah populer.

“Menulis berita ilmiah populer itu lebih sulit daripada menulis jurnal ilmiah. Dalam jurnal kita bebas menggunakan istilah teknis, tetapi dalam berita populer konsep itu harus kita jelaskan seperti bercerita kepada lulusan SD,” katanya.

Ia juga menyoroti pentingnya etika dalam penulisan ilmiah populer. Mulai dari penggunaan analogi yang tepat, menentukan sudut pandang yang relevan dengan isu terkini, hingga menyusun narasi tanpa menghilangkan data.

“Tugas menulis berita ilmiah populer adalah tugas peradaban. Ini bukan pekerjaan yang membuat kaya dalam semalam, tetapi akan membuat bangsa ini kaya pemikiran kritis, imajinasi ilmiah, dan rasa ingin tahu,” tutupnya. (*)

Muhammad Yamin

Jurnalis NTBSatu

Artikel Terkait

Back to top button