Menu MBG Dinilai Monoton, SPPG Dapur Dua Sembalun Akui Terikat Aturan Nasional
Lombok Timur (NTBSatu) – Keluhan terkait menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai muncul dari sejumlah penerima manfaat di Kecamatan Sembalun. Menu yang dinilai kurang bervariasi menjadi salah satu catatan yang untuk petugas pelaksana di lapangan.
Kepala Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) Lombok Timur Dapur 2 Sembalun, Lalu Hergi Rinaldi, mengakui adanya komplain tersebut. Namun menurutnya, pihaknya tidak dapat sepenuhnya mengubah penyusunan menu MBG. Alasannya, karena harus mengikuti master menu dari Badan Gizi Nasional (BGN).
“Pusat selalu mengingatkan kami untuk menyiapkan menu satu bulan dengan master menu yang telah pusat tentukan. Ini untuk menghindari keterlambatan pelaporan dan penyusunan pagu anggaran,” ujar Hergi, Sabtu, 6 Juni 2026.
Ia menjelaskan, sistem menu nasional tersebut diterapkan untuk menjaga kelancaran pengadaan bahan panganan dan distribusi makanan di seluruh Indonesia. Akibatnya, variasi menu di daerah menjadi terbatas karena harus mengacu pada komposisi yang sudah BGN tetapkan.
Menurut Hergi, keluhan paling sering muncul pada menu protein tertentu. Di sisi lain, beberapa bahan pangan yang sebelumnya dapat digunakan kini tidak lagi diperbolehkan. Termasuk ikan laut yang sementara waktu tidak masuk dalam daftar menu.
Meski demikian, pihak SPPG berupaya mengurangi kejenuhan siswa. Caranya memodifikasi pengolahan makanan tanpa mengubah komponen utamanya.
“Kalau tempe goreng biasa kurang siswa kurang minat, maka kami coba olah jadi tempe orek asam manis. Begitu juga dengan sayur dan buah yang masih memungkinkan untuk kami variasikan,” katanya.
Hergi menegaskan, master menu bukan berarti bentuk menunya sama setiap hari. Evaluasi dari sekolah dan penerima manfaat tetap menjadi bahan pertimbangan untuk melakukan penyesuaian pada pengolahan makanan.
“Master menu itu bahannya tetap, tetapi penyajiannya bisa kami sesuaikan berdasarkan evaluasi yang kami terima di lapangan,” jelasnya.
Ia berharap berbagai penyesuaian tersebut dapat menjaga minat siswa untuk mengosumsi makanan yang SPPG siapkan. Sekaligus memastikan tujuan utama program MBG, yakni pemenuhan gizi anak sekolah, tetap tercapai. (*)




