Rupiah Melemah, Petani Sayur di Timbanuh Ikut Menanggung Beban Kenaikan Biaya Produksi
Lombok Timur (NTBSatu) – Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat ternyata tidak hanya dirasakan pelaku usaha besar atau industri impor. Petani sayur di Desa Timbanuh, Kecamatan Pringgasela, Lombok Timur, juga ikut merasakan dampaknya melalui kenaikan berbagai kebutuhan produksi pertanian.
Koordinator Komunitas Duta Sayur Timbanuh, Yunandi mengatakan, masyarakat desa memang tidak bertransaksi menggunakan dolar. Namun kenaikan harga berbagai barang penunjang pertanian membuat biaya produksi semakin tinggi.
“Memang kita tidak pakai dolar, tapi dampaknya tetap kita rasakan,” ujarnya pada NTBSatu, belum lama ini.
Menurut Andi, salah satu komponen yang paling terasa mengalami kenaikan adalah obat-obatan pertanian. Harga sejumlah produk yang sebelumnya berada di kisaran Rp18 ribu per kemasan kini naik menjadi sekitar Rp20 ribu.
Kenaikan tersebut membuat petani harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk menjaga produktivitas tanaman.
Selain obat-obatan, harga plastik kemasan hasil panen juga melonjak signifikan. Jika sebelumnya petani membeli satu pak plastik sekitar Rp12 ribu, kini harganya mencapai Rp18 ribu.
Padahal kebutuhan plastik menjadi komponen penting dalam proses distribusi hasil panen ke pasar. “Per hari kami biasanya butuh tiga pak plastik untuk membungkus hasil pertanian,” ujarnya.
Kenaikan harga juga terjadi pada plastik mulsa untuk budidaya tanaman. Menurut Andi, harga mulsa yang sebelumnya sekitar Rp700 ribu per rol kini meningkat menjadi sekitar Rp900 ribu.
Beban biaya tersebut semakin terasa karena satu petani dengan lahan luas dapat membutuhkan hingga empat rol mulsa dalam satu musim tanam.
“Satu aja sudah segitu harganya, sedangkan di sini biasa kita butuh tiga sampai empat rol,” keluhnya.
Harga Pupuk Naik
Tak hanya itu, harga pupuk juga menjadi tantangan tersendiri. Sebagai penggerak komunitas, Andi kerap harus menalangi kebutuhan pupuk anggota dengan sistem pembayaran setelah panen.
Ia mengakui, kenaikan harga berbagai sarana produksi membuatku kebutuhan modal komunitas semakin besar dari tahun ke tahun.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa gejolak ekonomi global turut menjangkau sektor pertanian di tingkat desa. Meski tidak berhubungan langsung dengan transaksi dolar, petani tetap harus menghadapi kenaikan harga barang yang sebagian bahan bakunya berganti pada pasar internasional.
Dengan situasi tersebut, para petani Timbanuh berupaya bertahan dengan memperkuat gotong royong dan sistem permodalan bersama yang selama ini dijalankan melalui komunitas Duta Sayur.
Namun Andi menilai, para petani tetap membutuhkan dukungan pemerintah, agar petani tidak semakin tertekan dengan kenaikan biaya produksi yang terus terjadi.
“Yang paling terasa bagi petani itu pupuk, obat-obatan, dan plastik. Semua naik, sementara kita tetap harus menanam,” pungkasnya. (*)




