Risiko Bahaya Peniruan “Freestyle”, Psikolog Unram Minta Orang Tua Atur Pola Penggunaan Gawai
Mataram (NTBSatu) – Fenomena maraknya anak-anak yang meniru aksi freestyle dari gim populer Free Fire (FF) di berbagai tempat, mendapat perhatian khusus dari praktisi psikologis klinis.
Berdasarkan pantauan psikologis klinis, tanpa pendampingan yang tepat, anak-anak berisiko meniru perilaku berbahaya. Sebab, belum mampu membedakan batasan antara dunia maya dan realita.
Psikolog klinis Universitas Mataram (Unram), Pujiarohman meminta orang tua lebih proaktif dalam mengatur pola penggunaan gawai. Guna mencegah dampak fatal, akibat ketidakmampuan anak membedakan dunia maya dan dunia nyata.
“Anak-anak memiliki imajinasi dan dorongan meniru yang sangat kuat. Ketika mereka melihat karakter di gim FF melakukan aksi freestyle atau gerakan ekstrem tanpa luka berat, mereka bisa menganggap itu keren. Dan ingin mencoba sendiri demi mendapat pujian teman sebaya,” ujarnya kepada NTBSatu, Kamis, 7 Mei 2026.
Bias Realitas dan Kontrol Impuls
Berdasarkan perkembangan psikologis, kemampuan berpikir kritis dan pertimbangan risiko pada anak usia SD hingga awal SMP, masih dalam tahap perkembangan.
Hal ini memicu timbulnya celah saat anak-anak gagal memahami, jika pada dunia nyata aksi freestyle di jalan raya atau di mana pun memiliki risiko berat, seperti cedera permanen, kematian hingga konsekuensi hukum.
Pada gim FF, karakter yang jatuh dari ketinggian atau mengalami kecelakaan saat beraksi, bisa sembuh seketika atau hidup kembali.
Terkadang, persepsi inilah yang cukup mengkhawatirkan. Jika terinternalisasi pada anak, sehingga mereka bisa meremehkan bahaya fisik di dunia nyata.
“Ia bisa berpikir, ‘Saya juga bisa coba,’ apalagi kalau teman-temannya ikut menantang atau memberi pujian,” ujarnya.
Dampak pada Emosi dan Perilaku
Di samping keselamatan fisik di jalanan, penggunaan gim tanpa kontrol juga bisa menyebabkan kerusakan stabilitas pada emosi anak.
Beberapa indikasi yang harus orang tua waspadai, seperti meningkatnya agresivitas, menormalisasi kekerasan, hingga penurunan konsentrasi anak.
Puji juga mengatakan, jika banyak orang tua memilih memberikan gawai pada anak agar diam dan tidak mengganggu aktivitas mereka.
Padahal, tanpa aturan dan komunikasi, gawai bisa beralih fungsi sebagai “pengasuh digital”, yang bisa memberikan informasi tanpa filter nilai.
“Jika anak dibiarkan belajar hanya dari layar tanpa bimbingan, mereka kehilangan kompas tentang apa yang pantas dilakukan. Masalahnya bukan pada gimnya, tetapi pada pola penggunaan yang liar tanpa pengawasan,” lanjutnya.
Pentingnya Dialog dan Alternatif Kegiatan
Melihat fenomena ini, Puji menyarankan agar orang tua tidak hanya sekadar melarang. Tetapi, turut serta membangun dialog kritis melalui pertanyaan sederhana.
Saat sedang bermain bersama anak, orang tua bisa bertanya, “Menurut kamu itu aman tidak kalau dilakukan di jalan raya?”. Atau “Kalau orang jatuh seperti itu di dunia nyata, apa akibatnya?”.
Biasanya, beberapa pertanyaan seperti itu sangat krusial untuk membantu anak-anak belajar membedakan antara dunia nyata dan dunia gim.
Selain itu, orang tua harus memberikan alternatif kegiatan yang menarik, agar anak tidak selalu lari ke layar gawai. Bisa seperti kegiatan fisik, olahraga, membantu pekerjaan rumah, hingga membaca buku.
Menurut Puji, keberhasilan pengasuhan digital sangat bergantung pada keteladanan orang tua sebagai figur yang paling dekat.
“Sulit meminta anak berhenti bermain HP kalau orang tuanya sendiri selalu memegang HP saat makan, atau saat bicara bersama keluarga,” ujarnya.
Menurutnya, memulai pengasuhan digital harus dengan aturan jam bermain yang jelas contoh nyata dari orang tua, serta kedekatan emosional.
Saat anak sudah menunjukkan gejala kecanduan akut atau mulai meniru perilaku berbahaya dari gim, Puji menyarankan orang tua untuk langsung melakukan pembatasan serius, dan berkonsultasi dengan profesional. (Inda)




