PendidikanSumbawa

Siswa SD di Sumbawa Tulis Surat Pilu untuk Prabowo: Kami Ingin Lauk dan Nasi MBG

Mataram (NTBSatu) – Seorang siswa kelas 3 SD Negeri Lebangkar, Kecamatan Ropang, Kabupaten Sumbawa, mencuri perhatian publik usai menulis surat untuk Presiden RI, Prabowo Subianto.

Siswa bernama Waldan Ramadhan itu menyampaikan harapan sederhana, agar program Makan Bergizi Gratis (MBG) segera hadir di sekolahnya.

Waldan yang masih berusia 10 tahun mengaku, merasa berbeda dengan siswa lain karena sekolahnya belum pernah menerima program MBG. Dalam surat tersebut, ia menuliskan rasa kecewa sekaligus harapan agar pemerintah menghadirkan program itu ke daerahnya.

IKLAN

“Untuk pak Prabowo Subianto, kapan ada MBG di sekolah kami. Kami menunggu kedatangan MBG yang kamu buat untuk sekolah seluruh Indonesia, tapi MBG tak pernah datang disekolah kami,” tulis Waldan, mengutip unggahan Facebook Nurdin Ranggabarani pada Jumat, 22 Mei 2026.

Waldan juga mengungkap, keinginannya untuk menikmati makanan dari program MBG seperti siswa lain pada berbagai daerah Indonesia. Ia bersama teman-temannya menunggu kedatangan program tersebut setiap hari sekolah.

“Kami ingin merasakan lauk dan nasi yang dibuat oleh karyawan MBG. Kami ingin merasakan hasil keringat karyawan yang kamu pilih sebagai pembuat hidangan yang ingin kami rasakan,” tambahnya.

IKLAN

Ketimpangan Program jadi Sorotan

Mantan Pimpinan DPRD Kabupaten Sumbawa, Nurdin Ranggabarani menilai, surat Waldan siswa asal Desa Lebangkar itu menggambarkan ketimpangan pembangunan antara wilayah perkotaan dan daerah pedalaman.

Nurdin menjelaskan, Desa Lebangkar sebenarnya memiliki sumber daya alam melimpah. Wilayah itu terkenal dengan hasil pertanian subur serta kekayaan mineral seperti emas dan tembaga. Lokasi desa tersebut juga sangat dekat dengan kawasan tambang PT. Amman Mineral.

“Kekayaan sumber daya alamnya mengandung mineral emas dan tembaga. Lebangkar hanya beberapa kilometer dari pusat penambangan PT. Amman Mineral di Dodo-Rinti, dan masuk ke dalam kawasan lingkar tambang,” tulisnya.

Menurut Nurdin, surat Waldan menjadi pengingat tentang pentingnya pemerataan program pemerintah hingga wilayah terpencil. Ia menyebut, kawasan pedalaman sering menerima giliran paling akhir dalam pelaksanaan program nasional.

“Ini bukan soal MBG semata, ini alarm tentang keadilan, dan lonceng ketimpangan. Tentang perlakuan yang berbeda antara perkotaan dan pedalaman. Dimana setiap program, kawasan Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T), selalu mendapat “jatah program” nomor antrian berikutnya,” ungkapnya.

Pada akhir tulisannya, Nurdin memberikan semangat kepada Waldan agar tetap rajin belajar dan tidak kehilangan harapan.

“Ananda Waldan Ramadhan belajarlah yang giat, sekolah yang rajin. Jika kelak kamu dewasa, kamu akan dihadapkan pada kenyataan yang lebih kompleks. MBG yang belum sampai padamu, salah satunya dibiayai dari kekayaan sumberdaya alam mineral, yang dikeruk dari bawah telapak kaki mungilmu,” tutupnya. (*)

Atim Laili

Jurnalis NTBSatu

Artikel Terkait

Back to top button